Tokito Oda Kukuhkan Dominasi: Juara Keempat Beruntun di Roland Garros
Baca dalam 60 detik
- Petenis kursi roda Jepang, Tokito Oda, menaklukkan Alfie Hewett 6-3, 6-3 untuk meraih gelar keempat berturut-turut di Prancis Terbuka.
- Kemenangan ini menambah koleksi gelar Grand Slam tunggal Oda menjadi lima, menegaskan statusnya sebagai penguasa tunggal di nomor tersebut.
- Prestasi Oda menjadi inspirasi bagi atlet difabel global, termasuk di Indonesia yang tengah mengembangkan tenis kursi roda.

Tokito Oda kembali menegaskan supremasi di tenis kursi roda putra. Petenis nomor satu dunia asal Jepang itu sukses mempertahankan gelar juara Prancis Terbuka untuk keempat kalinya secara beruntun, setelah mengalahkan rival beratnya asal Inggris, Alfie Hewett, dengan skor 6-3, 6-3 di lapangan Roland Garros, Paris, Sabtu (6/6/2026).
Kemenangan ini bukan sekadar catatan prestasi pribadi. Bagi Oda, yang baru berusia 20 tahun, gelar keempat di Paris menjadi bukti konsistensi di level tertinggi. Ia kini telah mengoleksi lima gelar Grand Slam tunggal, menjadikannya salah satu petenis kursi roda paling sukses di generasinya. Pertandingan final berlangsung ketat, namun Oda mampu mengendalikan ritme permainan dan memanfaatkan kelemahan Hewett di poin-poin kritis.
Dominasi Oda di Roland Garros menimbulkan pertanyaan: akankah ada yang mampu menghentikannya? Hewett, yang merupakan petenis nomor dua dunia, sudah beberapa kali menjadi korban keganasan Oda di turnamen besar. Namun, Oda mengaku masih memiliki motivasi besar untuk terus berkembang. "Saya merasa sangat hebat sekarang," ujarnya usai pertandingan, seperti dikutip Kyodo News.
Pencapaian Oda menjadi sorotan di tengah maraknya perbincangan tentang inklusivitas olahraga difabel. Di Indonesia, prestasi Oda bisa menjadi momentum untuk mendorong pengembangan tenis kursi roda yang masih kurang populer. Meskipun atlet difabel Indonesia telah menunjukkan taji di ajang Paralimpiade, cabang tenis kursi roda belum banyak digeluti. Keberhasilan Oda membuktikan bahwa dengan pembinaan yang tepat, atlet difabel mampu bersaing di level tertinggi.
Ke depan, tantangan Oda adalah mempertahankan performa di turnamen Grand Slam lainnya, terutama Wimbledon dan AS Terbuka. Apakah ia mampu menyamai rekor legenda seperti Shingo Kunieda yang mengoleksi puluhan gelar? Atau justru Hewett yang akan bangkit dan memutus dominasi Oda? Yang jelas, persaingan di tenis kursi roda putra kini semakin menarik untuk diikuti.



