Alfie Hewett Kembali Tunduk pada Tokito Oda di Final Roland Garros: Dominasi Berlanjut
Baca dalam 60 detik
- Petenis kursi roda Inggris, Alfie Hewett, kembali gagal di final tunggal Prancis Terbuka setelah dikalahkan Tokito Oda untuk kedua kalinya berturut-turut.
- Oda, yang baru berusia 20 tahun, meraih gelar keempat beruntun di Roland Garros dan memperpanjang dominasinya dengan delapan kemenangan dari sebelas Grand Slam terakhir.
- Kekalahan ini menambah catatan pahit Hewett yang telah kalah lima kali dari tujuh pertemuan final Grand Slam melawan Oda, meski sehari sebelumnya ia sukses di ganda.

Untuk kedua kalinya secara beruntun, petenis kursi roda asal Inggris, Alfie Hewett, harus mengakui keunggulan lawannya di partai puncak tunggal Prancis Terbuka. Unggulan pertama asal Jepang, Tokito Oda, menaklukkan Hewett dengan skor 6-3, 6-3 dalam waktu 80 menit, sekaligus mempertahankan mahkota juara yang telah dipegangnya sejak 2022.
Kemenangan ini menandai gelar keempat berturut-turut Oda di Roland Garros. Petenis berusia 20 tahun itu kini telah memenangkan delapan dari sebelas turnamen Grand Slam tunggal terakhir, sebuah pencapaian yang menempatkannya sebagai penguasa mutlak tenis kursi roda putra. Bagi Hewett, kekalahan ini menjadi pukulan telak, terutama setelah sehari sebelumnya ia berhasil merebut gelar ganda bersama rekan senegaranya, Gordon Reid.
Pertandingan berjalan ketat sejak awal. Oda tampil agresif dan berhasil mematahkan servis Hewett di awal set pertama. Meskipun Hewett sempat menunjukkan perlawanan, konsistensi Oda dalam mengembalikan bola membuatnya kesulitan mengembangkan permainan. Di set kedua, Hewett sempat unggul 3-0, namun Oda bangkit dengan memenangkan enam game beruntun untuk menutup pertandingan.
"Selamat untuk Tokito dan timnya. Saya tidak tahu berapa tahun berturut-turut dia menang di sini, tapi rasanya seperti selamanya," ujar Hewett seusai pertandingan. "Tentu menyenangkan bisa kembali ke final, tapi saya kecewa dengan performa saya. Ini bukan yang bisa saya banggakan." Sementara itu, Oda memuji perkembangan permainan Hewett. "Saya selalu merasa kami berdua semakin baik di lapangan. Setiap pertandingan berbeda, level tenisnya semakin tinggi," katanya.
Dominasi Oda di tenis kursi roda putra menjadi fenomena tersendiri. Di usianya yang masih muda, ia telah mengoleksi delapan gelar Grand Slam tunggal. Bagi Hewett, kekalahan ini menjadi pengingat bahwa persaingan di puncak semakin ketat. Ia harus mencari cara untuk mematahkan dominasi Oda jika ingin kembali meraih gelar tunggal.
Di Indonesia, tenis kursi roda mulai mendapat perhatian, meskipun prestasi di level internasional masih terbatas. Dominasi Oda dan perjuangan Hewett bisa menjadi inspirasi bagi atlet kursi roda tanah air untuk terus berlatih dan berkompetisi. Pertanyaan yang muncul: mampukah Hewett bangkit dan mengakhiri dominasi Oda di Grand Slam berikutnya?



