Kisah Petenis Polandia yang Bangkit dari Depresi dan Kini Melaju ke Semifinal Prancis Terbuka
Baca dalam 60 detik
- Maja Chwalinska menjadi petenis kualifikasi kedua dalam sejarah yang mencapai semifinal tunggal putri Roland Garros, setelah mengalahkan unggulan ke-22 Anna Kalinskaya.
- Petenis peringkat 114 dunia itu sempat vakum karena depresi berat, namun kembali berkat dukungan orang terdekat dan keterbukaan atlet seperti Naomi Osaka.
- Kemenangan ini membawa Chwalinska meroket ke peringkat 30 besar dunia dan mengantongi hadiah lebih dari Rp12 miliar, melampaui total pendapatan kariernya sebelumnya.

Maja Chwalinska, petenis Polandia berusia 24 tahun, menorehkan sejarah di Prancis Terbuka 2025 dengan menjadi pemain kualifikasi kedua yang berhasil menembus semifinal tunggal putri Roland Garros. Kemenangan dramatis 7-6 (7-3), 6-3 atas unggulan ke-22 Anna Kalinskaya pada Rabu (4/6) mengukuhkan perjalanan impiannya di turnamen Grand Slam tersebut.
Chwalinska, yang kini menghuni peringkat 114 dunia, sebelumnya hanya pernah memenangi dua pertandingan level tur di lapangan tanah liat. Namun di Paris, ia tampil tanpa beban dan mampu mengalahkan dua pemain unggulan serta juara Olimpiade Zheng Qinwen. Kemenangan ini menjadikannya petenis kualifikasi keenam di era Open yang mencapai semifinal Grand Slam, setelah Nadia Podoroska (2020), Emma Raducanu (2021), dan lainnya.
Yang membuat pencapaian ini semakin istimewa adalah latar belakang perjuangan mental Chwalinska. Lima tahun lalu, setelah tersingkir di babak kualifikasi Wimbledon, ia memutuskan cuti tanpa batas waktu karena depresi yang menghantuinya selama dua tahun. "Saya terus memaksakan diri, berpikir harus tetap kuat dan terus berlatih. Tapi kemudian saya tidak bisa bangun dari tempat tidur lagi. Saya merasa hampa," ungkapnya.
Kembalinya Chwalinska ke tenis tidak lepas dari dukungan orang-orang terdekat dan keterbukaan petenis top seperti Naomi Osaka yang berbicara tentang kesehatan mental. "Saya butuh waktu beberapa bulan untuk membereskan pikiran. Saya senang akhirnya kembali," katanya. Kini, ia bermain dengan kebebasan dan kreativitas yang menular, seperti terlihat saat ia bangkit dari ketertinggalan 5-1 di set pertama melawan Kalinskaya.
Di semifinal, Chwalinska akan berhadapan dengan Diana Shnaider, unggulan ke-25 asal Rusia yang secara mengejutkan menyingkirkan petenis nomor satu dunia Aryna Sabalenka. Laga ini menjadi ujian terberat bagi Chwalinska, namun ia tetap rendah hati. "Saya tidak fokus pada kepercayaan diri. Saya bermain melawan pemain terbaik dunia, jadi saya tidak akan membandingkan diri dengan mereka," ujarnya.
Bagi penggemar tenis Indonesia, kisah Chwalinska menjadi pengingat bahwa jalan menuju puncak tidak selalu mulus. Depresi dan tekanan mental bisa menimpa siapa pun, termasuk atlet elit. Keberaniannya untuk berbicara dan mengambil jeda justru menjadi kunci kebangkitannya. Pertanyaannya, akankah ia mampu mengikuti jejak Emma Raducanu sebagai juara Grand Slam dari jalur kualifikasi? Semifinal melawan Shnaider akan menjadi jawaban pertamanya.



