Campak, Wabah yang Lebih Mematikan dari Ebola tapi Terlupakan
Baca dalam 60 detik
- Lebih dari 78.000 kasus campak di Bangladesh dalam dua bulan terakhir, dengan 500 anak meninggal, namun minim sorotan global.
- Ketimpangan perhatian publik disebabkan oleh faktor psikologis: penyakit langka dan dramatis seperti Ebola dianggap lebih mengancam.
- Indonesia perlu waspada karena lonjakan kasus campak global bisa berdampak pada rantai penularan domestik, mengingat cakupan imunisasi yang belum merata.

Wabah campak di Bangladesh telah merenggut nyawa lebih dari 500 anak dalam dua bulan terakhir, menjadikannya salah satu ledakan kasus terburuk dalam beberapa dekade. Namun, perhatian dunia justru lebih tersedot pada dua wabah lain yang lebih langka: virus Andes di kapal pesiar dan Ebola di Republik Demokratik Kongo. Sebuah ironi yang menurut para ahli kesehatan masyarakat mencerminkan distorsi prioritas dalam persepsi risiko global.
Hingga akhir Mei, Bangladesh mencatat lebih dari 78.000 kasus suspek dan terkonfirmasi campak, sebagian besar menimpa balita yang tidak divaksinasi. Sebagai perbandingan, wabah virus Andes hanya menyebabkan 13 kasus dan tiga kematian, sementara Ebola di Kongo dan Uganda menimbulkan lebih dari 1.000 kasus dan 220 kematian. Meski angka kematian campak jauh lebih tinggi, wabah ini nyaris tidak mendapat liputan media internasional yang signifikan.
Dr. Hsu Li Yang, Direktur Asia Centre for Health Security di National University of Singapore, menilai ketimpangan ini wajar secara psikologis pasca-COVID-19. Masyarakat dan media cenderung lebih tertarik pada penyakit yang asing, misterius, dan berpotensi menjadi pandemi berikutnya. Virus Andes, misalnya, memenuhi kriteria tersebut: langka, mematikan, menular antarmanusia, dan muncul di kapal pesiar mewah yang menjadi destinasi impian banyak orang. Sebaliknya, campak dianggap sebagai penyakit lama yang sudah ada vaksinnya, sehingga dianggap kurang menarik meskipun faktanya masih menjadi pembunuh utama anak-anak akibat penyakit yang dapat dicegah dengan vaksinasi.
Konsekuensi dari ketimpangan perhatian ini tidak main-main. Pertama, terjadi kelelahan kewaspadaan (alert fatigue) di kalangan publik dan pembuat kebijakan. Kedua, celah bagi misinformasi semakin lebar; wabah virus Andes misalnya, memicu kembali narasi konspirasi tentang vaksin dan rekayasa laboratorium yang populer di era COVID-19. Ketiga, alokasi sumber daya kesehatan global menjadi timpang. Analisis OECD menunjukkan bahwa pendanaan untuk kesiapsiagaan pandemi meningkat tajam antara 2019 dan 2022, sementara dana untuk layanan kesehatan dasar justru menurun. Padahal, sistem primer yang kuat adalah fondasi deteksi dan penanggulangan wabah yang efektif.
Bagi Indonesia, fenomena ini menjadi pengingat penting. Meskipun cakupan imunisasi campak nasional menunjukkan perbaikan, masih terdapat kantong-kantong populasi dengan cakupan rendah, terutama di daerah terpencil dan konflik. Lonjakan kasus campak global, seperti yang terjadi di Bangladesh, meningkatkan risiko importasi kasus ke Indonesia. Singapura yang memiliki cakupan vaksinasi di atas 95 persen saja mencatat peningkatan kasus campak tiga kali lipat pada 2025 dibanding tahun sebelumnya, sebagian besar karena kasus impor. Tanpa penguatan surveilans dan respons cepat di pintu masuk negara, Indonesia bisa menghadapi situasi serupa.
Dr. Hsu menekankan bahwa investasi jangka panjang pada sistem kesehatan primer, rantai pasok vaksin, dan tenaga kesehatan terlatih adalah kunci ketahanan terhadap wabah. Hal ini sejalan dengan upaya Indonesia dalam memperkuat jejaring laboratorium, puskesmas, dan program imunisasi nasional. Pertanyaannya, apakah perhatian publik dan politik akan tetap terfokus pada ancaman yang 'seksi' semata, atau mulai melirik lonceng kematian yang lebih pelan namun pasti—yaitu anak-anak yang meninggal karena penyakit yang seharusnya bisa dicegah?



