Sungai Atmosfer di Jepang Menguat 8% dalam 40 Tahun, Ancaman Banjir Kian Nyata
Baca dalam 60 detik
- Volume uap air dalam fenomena atmospheric rivers di Jepang naik 8,3% sejak 1980-an akibat pemanasan global.
- Tekanan tinggi Pasifik yang menguat mempercepat aliran udara lembap, meningkatkan risiko hujan ekstrem dan bencana hidrometeorologi.
- Peneliti mendesak kesiapsiagaan dengan peta risiko dan perlengkapan darurat, mengingat tren peningkatan intensitas diperkirakan berlanjut.

Fenomena atmospheric rivers—koridor udara lembap yang membawa hujan deras—di atas Jepang menunjukkan peningkatan volume uap air hingga 8,3% dalam empat dekade terakhir, menurut riset terbaru Universitas Tsukuba dan Universitas Hokkaido. Temuan ini mengindikasikan bahwa perubahan iklim telah memperkuat mekanisme cuaca ekstrem yang berpotensi memicu banjir dan tanah longsor, terutama menjelang musim hujan tahun ini.
Atmospheric rivers adalah aliran uap air raksasa di atmosfer yang bisa membentang lebih dari 2.000 kilometer, seringkali disertai puluhan pita hujan linear. Meskipun fenomena ini sudah dikenal sejak 1992, data jangka panjang mengenai perubahannya masih terbatas. Tim peneliti kemudian menganalisis data satelit dan sumber lain untuk periode Juni–Agustus 1981–2022, saat atmospheric rivers terbentuk dari China hingga Jepang.
Hasil analisis menunjukkan bahwa tekanan pusat sistem tekanan tinggi Pasifik meningkat 2 hektopascal dalam 40 tahun. Kenaikan ini memperkuat angin, sehingga udara yang sarat uap air mengalir secara beruntun ke langit Jepang. Akibatnya, atmospheric rivers semakin berkembang dan volume uap air melonjak 8,3%. Hebatnya, debit aliran atmospheric rivers terkini melampaui debit Sungai Amazon—cukup untuk memenuhi Tokyo Dome (1,24 juta meter kubik) hanya dalam tiga detik.
Faktor utama di balik penguatan ini adalah pemanasan global yang meningkatkan suhu air laut—sumber utama uap air. Suhu laut diperkirakan terus naik, sehingga intensitas atmospheric rivers diprediksi semakin tinggi. Yoichi Kamae, asisten profesor meteorologi di Universitas Tsukuba yang memimpin riset, menekankan pentingnya kesiapsiagaan. "Masyarakat harus mengambil langkah antisipasi dengan asumsi bencana hujan deras akan terjadi, menggunakan peta risiko untuk memahami ancaman di rumah dan tempat kerja, serta menyiapkan perlengkapan darurat," ujarnya.
Bagi Indonesia, fenomena ini menjadi pengingat bahwa perubahan iklim tidak hanya berdampak pada negara subtropis. Meskipun atmospheric rivers lebih sering dikaitkan dengan Jepang dan Amerika Serikat, pola cuaca ekstrem serupa—seperti aliran massa udara basah dari Samudra Hindia—juga memengaruhi curah hujan di Indonesia. Peningkatan suhu laut di perairan Indonesia dapat memperkuat potensi hujan lebat dan banjir, terutama di wilayah rawan seperti Jakarta dan Kalimantan. Riset ini memperkuat urgensi adaptasi iklim, termasuk sistem peringatan dini dan tata kelola air yang lebih baik.
Riset yang dipublikasikan di jurnal Climate Dynamics edisi 19 Mei ini membuka pertanyaan baru: seberapa cepat atmospheric rivers akan terus menguat, dan apakah negara tropis seperti Indonesia siap menghadapi konsekuensinya? Tanpa langkah mitigasi yang konkret, ancaman bencana hidrometeorologi dipastikan akan semakin sering terjadi.



