Tanaman Kacang Punya 'Telepon Darurat': Panggil Tawon saat Digerogoti Ulat
Baca dalam 60 detik
- Peneliti membuktikan tanaman kacang merah melepaskan sinyal kimia yang menarik tawon predator saat daunnya dimakan ulat grayak.
- Mekanisme pertahanan ganda ini melibatkan reseptor INR yang mendeteksi molekul In11 dari air liur ulat, lalu mengaktifkan pertahanan internal dan eksternal.
- Temuan ini membuka peluang pengembangan varietas tanaman dengan ketahanan alami, mengurangi ketergantungan pada pestisida kimia di Indonesia.

Tanaman kacang merah ternyata memiliki sistem pertahanan canggih: saat digerogoti ulat grayak, ia mengirimkan sinyal kimia ke udara yang memanggil tawon predator untuk datang dan melahap sang hama. Temuan ini, yang dipublikasikan di jurnal Science Advances pada Mei 2026, mengungkap mekanisme molekuler yang selama ini hanya diduga para ilmuwan.
Penelitian yang dilakukan tim dari Universitas Washington bersama peneliti Swiss dan Meksiko ini menguji hipotesis tersebut melalui serangkaian percobaan laboratorium dan lapangan di Oaxaca, Meksiko, selama dua musim tanam (2023–2024). Mereka menemukan bahwa kunci dari sistem ini adalah molekul bernama In11 yang terbentuk di dalam perut ulat saat mencerna protein daun kacang. Molekul ini kemudian keluar bersama air liur ulat dan menempel di permukaan daun.
Di permukaan daun, terdapat sensor bernama Inceptin Receptor (INR) yang mampu mendeteksi keberadaan In11. Begitu terdeteksi, tanaman langsung melepaskan campuran senyawa kimia volatil yang menarik perhatian tawon dari genus Polybia dan Mischocyttarus. Selama jutaan tahun evolusi, tawon-tawon ini telah belajar mengasosiasikan aroma tersebut dengan keberadaan ulat—sumber makanan mereka.
Yang menarik, luka fisik pada daun—tanpa adanya sinyal kimia dari ulat—tidak cukup untuk memicu kedatangan tawon. Ini membuktikan bahwa tanaman memerlukan pengenalan spesifik terhadap kehadiran hama melalui reseptor INR. Lebih dari itu, INR juga mengaktifkan pertahanan internal: tanaman mengubah komposisi kimiawi daunnya sehingga lebih sulit dicerna atau kurang menguntungkan bagi ulat. Hasilnya, ulat yang memakan daun tanaman dengan INR aktif tumbuh lebih lambat—72,7% lebih lambat dibanding yang memakan tanaman tanpa INR aktif.
Dengan kata lain, satu reseptor INR menghasilkan dua lapis pertahanan sekaligus: dari dalam (memperlambat pertumbuhan ulat) dan dari luar (memanggil predator). Keduanya saling melengkapi, bukan menggantikan. Mekanisme ini diduga melibatkan produksi senyawa pertahanan seperti protein penghambat enzim pencernaan atau senyawa toksik ringan yang terakumulasi setelah INR aktif.
Bagi Indonesia, temuan ini memiliki implikasi besar. Kacang-kacangan seperti kacang merah, kacang tanah, dan kedelai merupakan komoditas penting yang sering diserang hama ulat grayak (Spodoptera litura). Saat ini, petani masih sangat bergantung pada pestisida kimia yang tidak hanya mahal tetapi juga memicu resistensi hama dan merusak lingkungan. Dengan memahami mekanisme INR, para peneliti dapat mengembangkan varietas tanaman lokal yang lebih tangguh secara alami.
Menurut para peneliti, langkah selanjutnya adalah mengidentifikasi varietas kacang-kacangan di Indonesia yang memiliki varian INR aktif, serta menguji efektivitasnya di lapangan. Sistem tumpangsari tradisional, seperti yang dipraktikkan dalam sistem milpa di Mesoamerika, mungkin secara tidak sengaja sudah memanfaatkan pertahanan alami ini. Di Indonesia, pola tanam tumpangsari kacang dengan jagung atau padi bisa dioptimalkan untuk memicu respons pertahanan alami.
Pertanyaan besarnya: akankah riset ini mendorong pergeseran dari pertanian berbasis pestisida ke pendekatan ekologis yang lebih berkelanjutan? Di tengah meningkatnya resistensi hama dan tuntutan konsumen akan produk ramah lingkungan, jawabannya mungkin akan menentukan masa depan pertanian kacang-kacangan di Indonesia.



