Manchester United Amankan Gelandang Brasil Ederson dari Atalanta dengan Biaya £35 Juta
Baca dalam 60 detik
- Setan Merah mencapai kesepakatan dengan Atalanta untuk merekrut gelandang Brasil Ederson senilai £35 juta, plus tambahan £3,9 juta.
- Ederson, 26 tahun, akan menandatangani kontrak empat tahun dengan opsi perpanjangan, menjadi rekrutan pertama era Michael Carrick sebagai pelatih permanen.
- Perekrutan ini merupakan awal dari rencana besar United yang membidik hingga tiga gelandang baru, seiring kepergian Casemiro dan fokus pada peremajaan lini tengah.

Manchester United akhirnya bergerak cepat di bursa transfer dengan menyepakati biaya transfer sebesar £35 juta (sekitar Rp 700 miliar) untuk merekrut gelandang serba bisa Atalanta, Ederson. Langkah ini menjadi sinyal bahwa era baru di Old Trafford di bawah kepemimpinan pelatih Michael Carrick mulai terbentuk, dengan prioritas utama memperkuat lini tengah yang ditinggalkan Casemiro.
Menurut sumber internal klub, pemain berusia 26 tahun itu dijadwalkan menjalani tes medis dalam waktu dekat dan diperkirakan resmi bergabung pada awal Juli, tepat sebelum sesi pramusim dimulai. Ederson akan menandatangani kontrak berdurasi empat tahun dengan opsi perpanjangan satu musim. Selain biaya pokok, United juga menyetujui tambahan pembayaran sebesar £3,9 juta yang bergantung pada pencapaian tertentu.
Ederson bukanlah nama asing di Serie A. Selama membela Atalanta, ia tampil dalam 180 pertandingan di semua kompetisi dan mencetak 16 gol. Kemampuannya bermain di berbagai peran di lini tengah—baik sebagai gelandang bertahan, box-to-box, maupun playmaker—menjadi daya tarik utama bagi Carrick yang ingin membangun kembali keseimbangan tim. Dengan tiga caps bersama timnas Brasil, Ederson sempat masuk dalam skuad sementara Piala Dunia 2026 namun gagal menembus skuad final pilihan Carlo Ancelotti.
Perekrutan Ederson hanyalah awal dari rencana besar United di bursa transfer musim panas ini. Carrick mengonfirmasi bahwa ia telah terlibat dalam rapat rekrutmen sejak ditunjuk sebagai pengganti sementara Ruben Amorim pada Januari lalu. Kini, dengan statusnya sebagai pelatih permanen, ia bersama direktur sepak bola Jason Wilcox dan kepala analisis data Michael Sansoni—mantan eksekutif Mercedes Formula One—telah menyusun daftar target prioritas. Setidaknya dua hingga tiga gelandang baru diincar untuk mengisi pos yang ditinggalkan Casemiro yang kontraknya habis akhir bulan ini.
Selain Ederson, United dikabarkan juga mengincar Mateus Fernandes dari West Ham United, meski klub London tersebut meminta harga tinggi—di atas £40 juta—untuk pemain Portugal itu. Nama lain yang masuk radar adalah Elliot Anderson dari Nottingham Forest, meski pemain Inggris itu lebih memilih bergabung dengan Manchester City. Di sektor lain, United juga mencari pemain sayap kiri dan penyerang pendukung bagi Benjamin Sesko, dengan Lewis Hall dari Newcastle menjadi salah satu opsi.
Keputusan besar lainnya menyangkut posisi kiper. Penjaga gawang utama Andre Onana telah diberitahu bahwa ia boleh mencari klub baru, meskipun gajinya yang tinggi—ditambah bonus karena United lolos ke Liga Champions musim depan—bisa menjadi kendala. Sementara itu, Radek Vitek yang tampil gemilang saat dipinjamkan ke Bristol City—bahkan memenangkan semua penghargaan pemain terbaik klub—menegaskan ingin bermain reguler dan enggan kembali ke Old Trafford hanya sebagai cadangan Senne Lammens.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, pergerakan Manchester United di bursa transfer selalu menjadi sorotan. Dengan basis penggemar yang besar di Tanah Air, setiap rekrutan baru—terutama pemain Brasil seperti Ederson—otomatis meningkatkan daya tarik tayangan Liga Inggris di platform streaming lokal. Jika United sukses mendatangkan dua atau tiga gelandang baru, persaingan di lini tengah akan semakin ketat dan berpotensi menghadirkan permainan yang lebih atraktif musim depan.
Langkah ini juga menunjukkan perubahan filosofi rekrutmen United di bawah Sir Jim Ratcliffe. Dengan pendekatan berbasis data yang lebih modern, klub tidak lagi sekadar memburu nama besar, tetapi pemain yang sesuai dengan kebutuhan taktis. Pertanyaannya, akankah Ederson mampu beradaptasi dengan cepat di Premier League dan menjadi jawaban atas kerapuhan lini tengah United? Atau justru ia akan menjadi bagian dari proyek jangka panjang yang belum tentu membuahkan hasil instan?



