Yordania Umumkan 26 Pemain untuk Debut Piala Dunia: Al-Tamari Jadi Andalan
Baca dalam 60 detik
- Yordania mengonfirmasi skuad final 26 pemain untuk penampilan perdana mereka di Piala Dunia 2026, dengan Mousa Al-Tamari sebagai bintang utama.
- Kapten Ehsan Haddad kembali setelah cedera Achilles, sementara striker Yazan Al-Naimat absen karena cedera ligamen lutut.
- Yordania tergabung di Grup J bersama Austria, Aljazair, dan juara bertahan Argentina, dengan laga pembuka melawan Austria pada 16 Juni.

Yordania akhirnya mengumumkan skuad final 26 pemain yang akan berlaga di Piala Dunia 2026, menandai debut bersejarah mereka di turnamen sepak bola paling bergengsi. Pelatih Jamal Sellami membawa sederet nama, termasuk penyerang Ligue 1 Mousa Al-Tamari yang musim lalu mencetak enam gol untuk Rennes.
Keputusan ini diambil setelah melalui seleksi ketat, dengan mempertimbangkan performa pemain di klub masing-masing dan kondisi cedera. Meski Al-Tamari menjadi sorotan, Ali Olwan dari Al-Sailiya justru menjadi pencetak gol terbanyak di antara pemain yang dibawa. Olwan diharapkan bisa menjadi pembeda di lini depan.
Kabar baik datang dari kapten tim, Ehsan Haddad, yang berhasil pulih dari cedera Achilles yang membuatnya absen hampir satu tahun. Pengalaman Haddad di lini belakang akan menjadi aset berharga bagi Yordania. Namun, kabar buruk menghampiri striker Yazan Al-Naimat yang harus absen karena cedera anterior cruciate ligament (ACL) yang dideritanya saat Piala Arab pada Desember lalu.
Sebelum terjun ke Piala Dunia, Yordania akan menjalani laga uji coba melawan Kolombia di San Diego pada 7 Juni. Pertandingan ini menjadi ajang finalisasi strategi dan kekompakan tim. Di Grup J, Yordania akan menghadapi Austria (16 Juni), Aljazair (22 Juni) di Santa Clara, dan juara bertahan Argentina (27 Juni) di Dallas. Grup ini jelas berat, namun Yordania optimistis bisa memberikan kejutan.
Bagi Indonesia, keikutsertaan Yordania di Piala Dunia menjadi inspirasi tersendiri. Sebagai sesama negara Asia, pencapaian Yordania menunjukkan bahwa tim dari kawasan Timur Tengah mampu bersaing di level tertinggi. Pelajaran berharga bisa diambil, terutama dalam hal pembinaan pemain dan manajemen cedera. Kehadiran pemain seperti Al-Tamari yang bermain di Eropa juga menjadi contoh bagaimana diaspora bisa memperkuat tim nasional.
Menurut analis sepak bola, kekuatan utama Yordania terletak pada disiplin taktik dan semangat juang yang tinggi. Namun, kelemahan di lini belakang dan minimnya pengalaman di panggung dunia bisa menjadi faktor penghambat. Pertanyaan besarnya, mampukah Yordania melewati fase grup dan mencatat sejarah baru? Atau justru menjadi bulan-bulanan tim-tim besar? Jawabannya akan terjawab di lapangan hijau Amerika Serikat musim panas ini.



