IHSG Melonjak Lebih dari 1%, Rupiah Justru Terperosok ke Rp 17.883 per Dolar AS
Baca dalam 60 detik
- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat kenaikan signifikan pada sesi I perdagangan hari ini, namun penguatan tersebut tidak diikuti oleh nilai tukar rupiah yang justru melemah.
- Pelemahan rupiah ke level Rp 17.883 per dolar AS menambah tekanan bagi perekonomian Indonesia, terutama di tengah kenaikan harga komoditas energi dan anjloknya harga emas.
- Pergerakan harga minyak WTI yang bertahan di atas USD 92 per barel dan batu bara yang mencapai level tertinggi dalam tujuh pekan menjadi sinyal bagi investor untuk mencermati prospek sektor energi.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menguat lebih dari 1% pada perdagangan sesi pertama, Selasa (2/6/2026), menembus level 6.193. Namun, penguatan bursa saham itu tidak diikuti oleh pergerakan rupiah yang justru melemah hingga menyentuh Rp 17.883 per dolar Amerika Serikat.
Kondisi ini mencerminkan dinamika pasar keuangan yang masih dibayangi sentimen eksternal, terutama kebijakan suku bunga global dan pergerakan harga komoditas. Penguatan IHSG didorong oleh aksi beli di sektor-sektor unggulan, tetapi tekanan terhadap rupiah menunjukkan bahwa aliran modal asing belum sepenuhnya kembali ke pasar domestik.
Dari sisi komoditas, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) masih bertahan di atas USD 92 per barel, didukung oleh ketatnya pasokan global dan permintaan yang tetap tinggi. Sementara itu, harga batu bara menyentuh level tertinggi dalam tujuh pekan terakhir, yakni USD 140 per ton. Kenaikan ini menjadi angin segar bagi emiten pertambangan di dalam negeri, namun juga berpotensi menekan biaya produksi industri pengguna batu bara.
Di sisi lain, harga emas justru anjlok ke bawah USD 4.500 per troy ons, mencerminkan peralihan minat investor ke aset berisiko seperti saham. Pelemahan emas ini dapat berdampak pada harga emas ritel di Indonesia, yang biasanya dijadikan sebagai instrumen investasi alternatif oleh masyarakat.
Bagi investor Indonesia, divergensi antara IHSG dan rupiah menjadi sinyal untuk lebih berhati-hati. Penguatan IHSG belum tentu berkelanjutan jika tekanan terhadap rupiah terus berlanjut. Bank Indonesia diperkirakan akan terus melakukan intervensi di pasar valas untuk menstabilkan nilai tukar, namun efektivitasnya tergantung pada sentimen global ke depan.
Ke depan, perhatian pasar akan tertuju pada data inflasi Amerika Serikat dan keputusan suku bunga The Fed. Jika tekanan dolar AS masih kuat, rupiah berpotensi kembali terdepresiasi, meskipun IHSG masih bisa bertahan didorong oleh sektor komoditas. Pertanyaannya, akankah investor asing kembali masuk ke pasar saham Indonesia di tengah ketidakpastian nilai tukar?



