Cadangan Devisa Jepang Anjlok Rekor, Korbankan Obligasi AS demi Selamatkan Yen
Baca dalam 60 detik
- Cadangan devisa Jepang turun 5,6% atau $77,11 miliar pada Mei, penurunan bulanan terbesar dalam sejarah.
- Penurunan dipicu intervensi pasar senilai 11,73 triliun yen untuk menghentikan pelemahan yen, melampaui rekor intervensi 2024.
- Jepang diperkirakan menjual obligasi AS dan aset valas lainnya untuk menyediakan dolar bagi operasi beli yen.

Cadangan devisa Jepang mengalami penurunan bulanan terbesar sejak pencatatan dimulai pada April 2000. Kementerian Keuangan Jepang melaporkan bahwa posisi cadangan pada akhir Mei menyusut 5,6 persen secara bulanan menjadi $1,31 triliun, setara dengan pengurangan $77,11 miliar. Penurunan ini dipicu oleh intervensi besar-besaran otoritas moneter di pasar valuta asing untuk menahan laju depresiasi yen terhadap dolar AS.
Data terpisah dari kementerian yang sama menunjukkan bahwa dalam periode 28 April hingga 27 Mei, Jepang menggelontorkan dana sebesar 11,73 triliun yen (sekitar $73 miliar) untuk operasi beli yen. Angka tersebut melampaui rekor intervensi sebelumnya sebesar 9,79 triliun yen pada 2024. Langkah ini diambil setelah yen terpuruk ke level terendah dalam beberapa dekade, didorong oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan perbedaan suku bunga antara Jepang dan Amerika Serikat.
Penurunan cadangan terutama disebabkan oleh pengurangan kepemilikan surat berharga, termasuk obligasi pemerintah AS, yang anjlok 7,5 persen menjadi $931,68 miliar. Sementara itu, posisi deposito hampir tidak berubah di $162,24 miliar, dan cadangan emas berkurang 1,4 persen menjadi $123,65 miliar. Meskipun Kementerian Keuangan Jepang tidak merinci transaksi terkait intervensi, analis meyakini bahwa otoritas menjual sebagian aset valas, terutama obligasi AS, untuk menyediakan likuiditas dolar yang diperlukan dalam operasi beli yen.
Intervensi diduga terjadi dalam rentang sekitar sepekan mulai akhir April, ketika yen merosot ke level 160 per dolar. Pergerakan nilai tukar sangat volatil pada 30 April, saat yen menguat tajam dari kisaran 160-an atas ke zona 155. Penguatan serupa juga terjadi pada 1, 4, dan 6 Mei. Namun, rincian harian intervensi tidak diungkapkan ke publik.
Bagi Indonesia, langkah Jepang ini memberikan pelajaran penting. Bank Indonesia (BI) juga kerap melakukan intervensi ganda di pasar spot dan DNDF untuk menstabilkan rupiah. Namun, kapasitas cadangan devisa Indonesia yang jauh lebih kecil โ sekitar $145 miliar per April 2025 โ membuat ruang gerak BI lebih terbatas. Jika Jepang yang memiliki cadangan lebih dari $1 triliun pun harus mengorbankan aset likuidnya, Indonesia perlu lebih berhati-hati dalam mengelola ekspektasi pasar dan menjaga kredibilitas kebijakan moneter.
Ke depan, efektivitas intervensi Jepang masih dipertanyakan. Selisih suku bunga yang lebar antara Jepang dan AS belum menunjukkan tanda-tanda menyempit, sementara Bank of Japan masih enggan menaikkan suku bunga secara agresif. Apakah pengorbanan cadangan devisa sebesar ini cukup untuk mengubah tren pelemahan yen, atau justru hanya menjadi solusi sementara yang menguras amunisi?



