Hipertensi Mengintai Usia Muda: Kenali Tanda Bahaya Sebelum Terlambat
Baca dalam 60 detik
- Tekanan darah tinggi kini semakin banyak ditemukan pada usia dewasa awal, sering tanpa gejala hingga mencapai tahap kritis.
- Faktor genetik tetap berperan besar, namun gaya hidup sehat dan pemantauan rutin dapat menekan risiko komplikasi serius.
- Pemeriksaan mandiri di rumah dengan alat terkalibrasi menjadi langkah strategis deteksi dini hipertensi.

Hipertensi tidak lagi menjadi monopoli usia lanjut. Dokter umum di Mayo Clinic Healthcare London, Dr Bianca Bandarra, mengingatkan bahwa tekanan darah tinggi dapat menyerang siapa saja tanpa pandang usia, dan yang lebih mengkhawatirkan, kondisi ini kerap berlangsung tanpa gejala hingga menimbulkan kerusakan organ yang ireversibel.
Secara global, angka kejadian hipertensi pada kelompok usia dewasa awal hingga pertengahan terus meningkat. Padahal, jika dibiarkan, tekanan darah yang konsisten tinggi memaksa jantung bekerja lebih keras dan meningkatkan risiko serangan jantung, gagal jantung, stroke, gangguan ginjal, hingga demensia. “Hipertensi adalah penyakit diam. Banyak orang tidak menyadari bahwa mereka mengidapnya,” ujar Dr Bandarra.
Di Indonesia, prevalensi hipertensi juga masih tinggi. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) menunjukkan sekitar satu dari tiga orang dewasa Indonesia memiliki tekanan darah tinggi, namun sebagian besar tidak terdiagnosis. Kondisi ini diperparah oleh rendahnya kesadaran untuk melakukan pemeriksaan rutin dan gaya hidup yang kurang sehat, seperti konsumsi garam berlebih dan kurang aktivitas fisik.
Dr Bandarra menekankan pentingnya deteksi dini, terutama bagi mereka yang memiliki faktor risiko seperti diabetes, penyakit ginjal, atau riwayat keluarga hipertensi. “Jika orangtua Anda memiliki hipertensi, Anda perlu lebih proaktif. Diskusikan dengan dokter apakah perlu memantau tekanan darah di rumah,” katanya. Meskipun hipertensi sering tanpa gejala, beberapa tanda dapat muncul ketika tekanan darah sudah sangat tinggi. Sakit kepala hebat, rasa tertekan di belakang mata, penglihatan kabur, nyeri dada, jantung berdebar, mimisan, dan kelelahan adalah sinyal yang patut diwaspadai. Namun, gejala-gejala ini tidak spesifik dan bisa disebabkan kondisi lain.
Lantas, apa yang bisa dilakukan? Faktor gaya hidup memegang peranan penting. Pola makan tinggi garam, kurang olahraga, obesitas, konsumsi alkohol berlebihan, dan stres dapat meningkatkan risiko hipertensi. Sebaliknya, diet rendah garam, aktivitas fisik teratur, menjaga berat badan ideal, dan manajemen stres dapat menurunkan tekanan darah. Namun, Dr Bandarra mengingatkan bahwa genetika juga tidak bisa diabaikan. “Beberapa orang melakukan semua hal yang benar tetapi tetap mengalami hipertensi. Itu karena faktor keturunan. Tapi kita tetap bisa mencegahnya memburuk,” ujarnya.
Pengobatan hipertensi biasanya melibatkan kombinasi gaya hidup sehat dan obat-obatan. Dokter mungkin juga merekomendasikan tes darah, urine, dan elektrokardiogram (EKG) untuk menilai kerusakan organ. Pemantauan mandiri di rumah dengan alat yang tervalidasi dan ukuran manset yang tepat menjadi cara aman untuk melacak kesehatan kardiovaskular. “Gunakan alat yang sudah teruji dan ikuti teknik yang benar. Meningkatkan kesadaran tentang hipertensi untuk diri sendiri, teman, dan keluarga dapat membuat perbedaan nyata,” tutup Dr Bandarra.
Ke depan, tantangan terbesar adalah mengubah persepsi bahwa hipertensi hanya masalah orang tua. Dengan meningkatnya kasus pada usia produktif, edukasi dan akses terhadap alat ukur tekanan darah yang terjangkau menjadi krusial. Akankah kesadaran masyarakat Indonesia cukup tinggi untuk melakukan pemeriksaan rutin sebelum muncul komplikasi?



