Mammografi pada Usia 40: Perdebatan Skrining Kanker Payudara Belum Usai
Baca dalam 60 detik
- American College of Physicians (ACP) menerbitkan panduan baru pada April 2026 yang memicu kembali perdebatan usia dan frekuensi skrining kanker payudara.
- Tinjauan Cochrane menemukan bahwa alat statistik saat ini gagal memperkirakan risiko individu pada wanita dengan riwayat keluarga kanker payudara.
- Para ahli sepakat bahwa mamografi tahunan mulai usia 40 tahun masih menjadi standar emas, meski ada kekhawatiran overdiagnosis dan false positive.

Perdebatan soal kapan wanita harus mulai menjalani mamografi kembali memanas setelah American College of Physicians (ACP) merilis panduan baru di Annals of Internal Medicine pada April 2026. Panduan ini mempertanyakan usia ideal dan frekuensi skrining, menambah kebingungan di tengah perbedaan rekomendasi dari berbagai organisasi kesehatan global.
Sejauh ini, belum ada konsensus internasional mengenai skrining mamografi rutin. Beberapa lembaga seperti US Preventive Services Task Force (USPSTF) merekomendasikan mamografi setiap dua tahun mulai usia 40 tahun, sementara American Cancer Society (ACS) dan National Comprehensive Cancer Network (NCCN) mendorong skrining tahunan pada usia yang sama. Perbedaan ini, menurut para ahli, justru membuat banyak wanita ragu dan akhirnya melewatkan pemeriksaan.
“Kebingungan ini membuat wanita hilang dari sistem dan tidak menjalani mamografi tahunan mereka,” ujar Dr. Rourke, seorang ahli radiologi yang diwawancarai Medical News Today. Ia menambahkan bahwa USPSTF sempat merekomendasikan skrining dimulai pada usia 50 tahun, namun kemudian mundur setelah mendapat tekanan dari organisasi kanker profesional.
Dr. Raza, seorang ahli onkologi, menekankan bahwa manfaat deteksi dini jauh lebih besar dibanding risiko overdiagnosis. “Meskipun pengobatan kanker payudara menimbulkan penderitaan dan kecemasan, penderitaan itu sebanding dengan penurunan angka kematian,” katanya. Ia merekomendasikan mamografi tahunan bagi wanita berisiko rata-rata mulai usia 40 tahun, sejalan dengan pedoman NCCN.
Bagi wanita dengan payudara padat, mamografi saja tidak cukup. Jaringan kelenjar yang padat membuat kanker sulit terlihat karena sama-sama berwarna putih pada gambar mamografi. Dalam kasus ini, dokter biasanya menyarankan USG atau MRI sebagai pelengkap. Namun, USG saja tidak direkomendasikan sebagai alat skrining utama karena tingkat false positive yang tinggi dan ketergantungan pada operator.
Di Indonesia, perdebatan ini relevan mengingat keterbatasan akses dan kesadaran masyarakat. Data Globocan 2020 menempatkan kanker payudara sebagai jenis kanker terbanyak di Indonesia dengan lebih dari 65.000 kasus baru per tahun. Sayangnya, sebagian besar pasien datang pada stadium lanjut. Padahal, jika terdeteksi dini, angka harapan hidup bisa mencapai 90%.
Para ahli menyarankan agar wanita Indonesia mulai melakukan pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) secara rutin sejak usia 20 tahun, dan mamografi pertama pada usia 40 tahun atau lebih awal jika memiliki faktor risiko. Pemeriksaan klinis oleh tenaga kesehatan juga penting dilakukan setiap tahun.
Ke depan, tantangan terbesar adalah menyamakan persepsi antara berbagai pedoman internasional dan memastikan wanita tidak terjebak dalam kebingungan. Pertanyaan yang masih mengemuka: akankah Indonesia memiliki pedoman skrining nasional yang jelas dan terjangkau bagi seluruh lapisan masyarakat?



