Transfer Isak Gagal Total: Liverpool dan Newcastle Sama-sama Terpuruk
Baca dalam 60 detik
- Alexander Isak hanya mencetak 4 gol di musim perdananya bersama Liverpool setelah pindah dengan rekor transfer £125 juta.
- Kepergian Isak dari Newcastle membuat tim kehilangan ketajaman, terbukti dari penurunan konversi peluang emas dari 41,1% menjadi 34,4%.
- Liverpool kini memburu pelatih anyar Andoni Iraola untuk membangkitkan kembali performa Isak dan tim.

Alexander Isak, pemain termahal dalam sejarah Premier League, gagal memenuhi ekspektasi di musim perdananya bersama Liverpool. Striker asal Swedia itu hanya tampil sebagai starter dalam 13 dari 22 penampilannya dan mencetak empat gol, jauh dari standar yang diharapkan setelah kepindahannya yang kontroversial dari Newcastle United.
Kisah yang dimulai dengan aksi mogok Isak untuk memaksa transfer pada bursa musim panas 2025 itu berakhir dengan cedera parah. Pada Desember, ia mengalami patah pergelangan kaki dan tulang fibula yang membuatnya absen selama empat bulan. Liverpool, yang saat itu merupakan juara bertahan, hanya mampu finis di posisi kelima dengan tertinggal 25 poin dari Arsenal. Pelatih Arne Slot pun dipecat pada akhir musim, menandai kegagalan proyek besar The Reds.
Bagi Newcastle, kehilangan Isak juga menjadi pukulan telak. Pada musim sebelumnya, Isak mencetak 27 gol dan membawa The Magpies memenangi Piala Liga, mengakhiri puasa gelar selama 70 tahun. Tanpa dirinya, konversi peluang emas Newcastle merosot dari 41,1% (terbaik ketiga liga) menjadi 34,4% (terburuk kelima). Tim asuhan Eddie Howe pun terpuruk di peringkat ke-12, dengan 27 poin hilang dari posisi unggul—terbanyak di Premier League.
Pelatih Newcastle, Eddie Howe, mengakui kepergian Isak menandai akhir dari satu era tim. "Tidak ada pemain lain seperti dia di sepak bola dunia, dan itulah mengapa ia dibanderol dengan harga setinggi itu," ujarnya dalam konferensi pers. Namun, Howe menolak menjadikan kepergian Isak sebagai kambing hitam. Ia lebih menyoroti kegagalan tim dalam merekrut pengganti yang setara di tengah keterbatasan waktu bursa transfer.
Di sisi lain, Liverpool kini bergerak cepat menunjuk manajer baru. Klub telah memulai negosiasi formal dengan Andoni Iraola, mantan pelatih Bournemouth, yang diyakini mampu memaksimalkan potensi Isak. Keyakinan internal klub menyebut musim 2025-26 sebagai anomali bagi sang striker, yang dianggap masih memiliki kualitas untuk bersaing di level tertinggi.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, saga ini memberikan pelajaran berharga tentang risiko transfer mahal dan pentingnya perencanaan suksesi. Di era di mana klub-klub Eropa berlomba membelanjakan uang besar, kasus Isak membuktikan bahwa kesuksesan tidak bisa dibeli begitu saja. Pertanyaan besarnya: mampukah Liverpool dan Newcastle bangkit dari keterpurukan, atau justru akan semakin tenggelam?



