IHSG Ditutup Hijau, Saham Konglomerat dan Bank Topang Indeks
Baca dalam 60 detik
- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 1,11% ke 6.195,43 pada Selasa (2/6/2026), meskipun penguatan terpangkas dari posisi tertinggi harian.
- Saham-saham konglomerat seperti BREN, AMMN, dan TPIA mendominasi transaksi dan menyumbang lebih dari 70% nilai perdagangan, sementara saham bank jumbo juga menjadi penopang utama.
- Rupiah berhasil menguat 0,20% ke Rp17.830/US$ setelah lima hari melemah, seiring pelemahan indeks dolar AS dan fokus pasar pada data makroekonomi serta negosiasi AS-Iran.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di zona hijau pada perdagangan Selasa (2/6/2026), menguat 68,05 poin atau 1,11% ke level 6.195,43, didorong oleh aksi beli saham-saham konglomerat dan perbankan yang mengimbangi tekanan dari sektor telekomunikasi.
Meskipun berakhir positif, penguatan IHSG terpangkas signifikan dibandingkan posisi tertinggi intraday yang sempat mencapai 2,23% di awal sesi. Sepanjang hari, indeks bergerak dalam rentang 6.143,63 hingga 6.264,26, dengan 295 saham menguat, 410 melemah, dan 254 stagnan. Kapitalisasi pasar bursa naik menjadi Rp 10.895 triliun.
Menurut data Refinitif, sektor utilitas mencatat kenaikan tertajam sebesar 16,11%, seiring aksi beli terhadap saham-saham grup konglomerat yang sebelumnya terkoreksi dalam. Saham Barito Renewables Energy (BREN) melonjak 24,85% hingga menyentuh batas auto rejection atas (ARA) dan berkontribusi 30,25 poin terhadap IHSG. Amman Mineral (AMMN) naik 17,88 poin dan Dian Swastatika Sentosa (DSSA) melesat 25%, masing-masing menyumbang 17,93 dan 10,85 poin. Secara agregat, lima sahamโChandra Asri Pacific (TPIA), Barito Pacific (BRPT), AMMN, BREN, dan Petrosea (PTRO)โmenguasai lebih dari 70% total transaksi setelah libur panjang.
Saham perbankan juga menjadi motor penguatan. Bank Rakyat Indonesia (BBRI), Bank Central Asia (BBCA), dan Bank Mandiri (BMRI) memberikan sumbangan positif masing-masing 14,11 poin, 11,71 poin, dan 7,04 poin. Di sisi lain, Telkom Indonesia (TLKM) menjadi pemberat terbesar dengan kontribusi negatif 8,35 poin, diikuti DCI Indonesia (DCII) dan Sejahteraraya Anugrahjaya (SRAJ) yang masing-masing membebani 4,93 dan 4,26 poin.
Memasuki pekan pertama Juni 2026, pelaku pasar mencermati sejumlah rilis data makroekonomi domestik dan global. Selain itu, perkembangan hubungan Amerika Serikat dan Iran menjadi perhatian setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan tidak terlalu peduli jika negosiasi damai gagal, sebagaimana diungkapkannya dalam wawancara dengan CNBC. Sikap tersebut berpotensi memicu volatilitas di pasar energi dan mempengaruhi sentimen investor terhadap aset berisiko.
Di pasar valuta asing, rupiah berhasil mematahkan tren pelemahan lima hari beruntun. Pada penutupan Selasa, mata uang Garuda menguat 0,20% ke Rp17.830 per dolar AS, setelah sempat tertekan hingga Rp17.892. Penguatan ini sejalan dengan pelemahan indeks dolar AS (DXY) yang turun 0,12% ke posisi 99,081 pada pukul 15.00 WIB. Fluktuasi rupiah yang volatil mengindikasikan masih tingginya ketidakpastian pasar, namun penguatan awal bulan ini memberikan sinyal positif bagi investor obligasi dan pasar saham.
Kinerja IHSG ke depan akan sangat bergantung pada data ekonomi AS, terutama inflasi dan ketenagakerjaan, serta kelanjutan negosiasi AS-Iran yang dapat mempengaruhi harga minyak. Di dalam negeri, investor menanti rilis data neraca perdagangan dan inflasi Mei untuk mengukur daya beli masyarakat. Apakah momentum penguatan IHSG mampu bertahan di tengah tekanan eksternal yang masih membayangi?



