IHSG Terus Merosot, Sentuh Level Terendah Lima Tahun di Tengah Gelombang Aksi Jual Asing
Baca dalam 60 detik
- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok lebih dari 2% pada awal perdagangan Jumat (5/6/2026), mendekati level 5.700 setelah sehari sebelumnya ambruk nyaris 2%.
- Investor asing mencatatkan net sell Rp1,27 triliun, dengan aksi jual terbesar pada saham perbankan jumbo seperti BBCA dan BBRI, memperkuat tekanan di pasar modal.
- Pelemahan rupiah di atas Rp18.000 per dolar AS, penurunan outlook Danantara, serta kekhawatiran evaluasi MSCI menjadi katalis negatif yang mendorong investor mengurangi eksposur aset berisiko Indonesia.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali terperosok pada perdagangan Jumat (5/6/2026), melanjutkan tren negatif setelah sehari sebelumnya ambruk nyaris 2%. Dalam kurang dari satu jam sejak bel dibuka, indeks merosot 2,08% ke posisi 5.718,38, mendekati level psikologis 5.700 dan menyentuh titik terendah dalam lima tahun terakhir. Tekanan jual yang masif, terutama dari investor asing, menjadi biang keladi koreksi ini.
Pada Kamis (4/6/2026), IHSG sempat anjlok hingga 5% ke level 5.644,23 sebelum memangkas kerugian menjadi 1,7% di akhir sesi. Namun, momentum pemulihan itu tak bertahan lama. Kembalinya aksi jual asing pada Jumat pagi membuat indeks kehilangan hampir seluruh gain pembukaan yang sempat naik tipis 0,11%. Data mencatat 469 saham berada di zona merah, berbanding 156 saham yang menguat, menunjukkan dominasi sentimen negatif di seluruh sektor.
Pergerakan investor asing menjadi sorotan utama di tengah koreksi ini. Pada sesi pertama Kamis, asing masih mencatatkan beli bersih Rp179 miliar. Namun, menjelang penutupan, arus berbalik drastis. Data menunjukkan total pembelian asing mencapai Rp12,52 triliun, sementara penjualan melonjak ke Rp13,79 triliun, menghasilkan net sell Rp1,27 triliun di seluruh pasar. Aksi jual terbesar terkonsentrasi pada saham perbankan jumbo: BBCA dilego Rp475,5 miliar, BBRI Rp451,6 miliar, BMRI Rp164 miliar, dan BBNI Rp106,2 miliar.
Tekanan di pasar saham Indonesia tak lepas dari sejumlah sentimen negatif. Pelemahan rupiah yang telah menembus level Rp18.000 per dolar AS menjadi alarm bagi investor asing. Selain itu, penurunan outlook Danantara Investment Management dan kekhawatiran terhadap hasil penilaian lembaga pemeringkat serta evaluasi MSCI yang akan diumumkan Juni ini semakin memperburuk persepsi risiko. Kondisi ini mendorong investor mengurangi eksposur terhadap aset berisiko di Indonesia, memperkuat arus keluar modal.
Pelemahan IHSG juga sejalan dengan bursa Asia-Pasifik yang dibuka negatif. Indeks Kospi Korea Selatan anjlok 4,11%, dengan saham Samsung Electronics dan SK Hynix masing-masing turun sekitar 6% dan 8%. Nikkei 225 Jepang terkoreksi 1,1%, sementara S&P/ASX 200 Australia melemah 0,2%. Kontrak berjangka Hang Seng Hong Kong juga menunjukkan prospek negatif. Sentimen ini dipicu oleh koreksi saham teknologi di Wall Street, di mana Nasdaq Composite turun 0,09% meski Dow Jones justru mencetak rekor baru.
Bagi investor Indonesia, kondisi ini menjadi ujian kesabaran. Dengan IHSG yang terus mendekati level 5.600, pertanyaan kritis muncul: akankah ada intervensi dari otoritas untuk menahan laju penurunan, atau pasar akan mencari titik keseimbangan baru? Keputusan MSCI dan lembaga pemeringkat dalam waktu dekat akan menjadi penentu arah selanjutnya.


