IHSG Melompat 2% di Awal Juni, Saham Grup Barito Jadi Motor Penggerak
Baca dalam 60 detik
- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat 2% pada perdagangan pertama Juni 2026, dipimpin saham Grup Barito.
- Kebijakan baru pemerintah soal devisa ekspor dan pembentukan Danantara DSI mulai berlaku, berpotensi memperkuat cadangan devisa.
- Pasar Asia-Pasifik tertekan ketidakpastian negosiasi AS-Iran, namun IHSG berhasil melawan arus negatif regional.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memulai bulan Juni dengan lonjakan signifikan, menguat hingga 2% pada sesi awal perdagangan Selasa (2/6/2026), membalikkan tren tekanan yang terjadi sepanjang bulan sebelumnya. Pergerakan ini didorong oleh aksi beli besar-besaran pada saham-saham konglomerasi, terutama milik Grup Barito, yang menjadi kontributor utama kenaikan indeks.
Pada pukul 09.30 WIB, IHSG tercatat di level 6.249,98, naik 122 poin dari penutupan sebelumnya. Nilai transaksi pagi itu mencapai Rp 4,2 triliun dengan volume 4,91 miliar saham dan frekuensi 374 ribu kali transaksi. Sebanyak 340 saham menguat, sementara 237 melemah dan 156 stagnan. Lonjakan ini terjadi di tengah sentimen global yang justru cenderung negatif, menunjukkan adanya faktor domestik yang kuat mendorong optimisme investor.
Katalis utama penguatan IHSG berasal dari implementasi kebijakan strategis pemerintah yang mulai berlaku per 1 Juni 2026. Pemerintah resmi membentuk PT Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI) sebagai badan pengelola ekspor satu pintu untuk tiga komoditas utama: batu bara, kelapa sawit, dan ferro alloy. Ketiga komoditas ini menyumbang nilai ekspor sebesar US$66,13 miliar pada 2025, atau sekitar 23,4% dari total ekspor nasional. Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan langkah ini bertujuan memperbaiki tata kelola sumber daya alam dan memperkuat pengawasan transaksi ekspor. "Sehingga nilai ekspor yang tercatat menggambarkan transaksi yang sebenarnya," ujarnya. Pemerintah akan mengevaluasi kebijakan setiap tiga bulan sebelum implementasi penuh pada 1 Januari 2027.
Bersamaan dengan itu, pemerintah memberlakukan Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2026 tentang Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA). Aturan ini mewajibkan eksportir nonmigas menempatkan 100% DHE di rekening khusus dalam negeri minimal 12 bulan, sementara sektor migas diwajibkan 30% selama tiga bulan. Konversi devisa ke rupiah juga dibatasi maksimal 50%, dan eksportir yang patuh mendapat insentif pajak penghasilan lebih rendah. Kebijakan ini diharapkan memperkuat cadangan devisa dan meningkatkan manfaat ekspor bagi sistem keuangan nasional.
Di sisi lain, bursa Asia-Pasifik justru dibuka melemah. Indeks Nikkei 225 Jepang turun 0,52%, Topix terkoreksi 0,98%, Kospi Korea Selatan melemah 0,32%, dan Kosdaq anjlok 2,5%. Australia juga tak luput dari tekanan dengan S&P/ASX 200 turun 0,67%. Kontrak berjangka Hang Seng Hong Kong berada di 25.207, lebih rendah dari penutupan sebelumnya. Pelemahan ini dipicu meningkatnya ketidakpastian terkait negosiasi perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran. Presiden AS Donald Trump dalam wawancara dengan CNBC meremehkan kemungkinan gagalnya pembicaraan, namun pernyataan itu justru membuat investor khawatir akan eskalasi konflik.
Bagi investor Indonesia, pemisahan antara sentimen global dan domestik menjadi kunci. Kebijakan baru pemerintah yang pro-stabilitas devisa dan pengelolaan ekspor memberikan optimisme tersendiri, terutama bagi sektor komoditas yang menjadi tulang punggung ekspor. Namun, ketidakpastian geopolitik global tetap menjadi risiko yang harus diantisipasi. Apakah momentum penguatan IHSG mampu bertahan di tengah tekanan eksternal yang masih membayangi? Jawabannya akan bergantung pada konsistensi implementasi kebijakan dan respons pasar terhadap data makroekonomi yang akan dirilis dalam pekan ini.


