Pemilik Southampton Pertahankan Pelatih Tonda Eckert Meski Skandal Spionase Mengguncang Klub
Baca dalam 60 detik
- Dragan Solak, pemilik Southampton, memastikan tidak akan memecat pelatih Tonda Eckert meskipun skandal spionase terhadap tiga klub Championship membuat timnya diusir dari play-off.
- Eckert mengaku bersalah dan meminta maaf, tetapi Solak menilai hukuman EFL terlalu berat dan menganggap pelatih muda itu layak mendapat kesempatan kedua.
- Skandal ini memicu kekhawatiran tentang budaya klub dan masa depan pemain, sementara FA masih menyelidiki kemungkinan sanksi tambahan terhadap Eckert.

Pemilik Southampton, Dragan Solak, menegaskan bahwa ia tidak akan memecat pelatih kepala Tonda Eckert meskipun pelatih asal Jerman itu mengakui kesalahannya dalam mengatur operasi spionase terhadap lawan-lawan di Championship. Dalam wawancara eksklusif dengan BBC Sport, Solak menyatakan bahwa Eckert pantas mendapat kesempatan kedua dan akan tetap mendapat dukungan penuh dari manajemen klub.
Skandal yang dijuluki "Spygate" ini bermula ketika Southampton mengirim staf untuk memata-matai sesi latihan Oxford United, Ipswich Town, dan Middlesbrough. Akibatnya, klub diusir dari play-off promosi Premier League dan mendapat pengurangan empat poin untuk musim 2026-27. Komisi disiplin independen EFL menyebut rencana tersebut sebagai "skema yang direkayasa dan terencana dari atas ke bawah".
Eckert, yang baru berusia 33 tahun, menyampaikan permintaan maaf melalui video delapan menit yang diunggah di media sosial klub. "Saya bertanggung jawab penuh. Saya masih muda dan melakukan kesalahan," ujarnya. Ia mengaku terkejut mengetahui bahwa praktik mengintai latihan lawan dilarang oleh regulasi EFL, karena di Italia dan Jerman—tempat ia sebelumnya bekerja—hal tersebut dianggap biasa.
Solak, pengusaha Serbia yang membeli saham mayoritas klub pada 2022, mengakui bahwa ia baru mengetahui skandal itu dari media sosial. "Saya mengirim pesan: 'Apa-apaan ini?'" katanya. Meski demikian, ia bersikeras bahwa hukuman yang dijatuhkan EFL tidak proporsional. "Kami kehilangan kesempatan meraih 200 juta poundsterling. Tapi jika FA menjatuhkan larangan, saya tetap akan mendukungnya, meski ia tidak bisa melatih," ujar Solak.
Skandal ini juga menyoroti tekanan yang dialami staf junior. Seorang analis magang mengaku diperintahkan memata-matai Middlesbrough dan merasa tidak nyaman. Solak menyesalkan hal itu dan menawarkan perpanjangan kontrak kepada staf tersebut. Namun, ia juga menyalahkan budaya klub yang disfungsi. "Ada banyak kesalahpahaman, ketidaktahuan, dan arogansi. Kami akan memastikan siapa pun yang diperintah melakukan sesuatu di luar zona nyaman berhak menolak," tegasnya.
Dampak skandal ini tidak hanya dirasakan oleh klub. Beberapa pemain dikabarkan ingin hengkang dan mempertimbangkan tuntutan hukum atas hilangnya bonus promosi. Solak menyerahkan keputusan kepada mereka. "Jika Anda pemain berkualitas Premier League, Anda akan bermain di Premier League musim ini atau musim depan," katanya.
Bagi sepak bola Indonesia, kasus ini menjadi pengingat pentingnya kepatuhan terhadap regulasi dan etika. Praktik spionase yang dianggap lumrah di Eropa kontinental bisa berakibat fatal jika diterapkan di Inggris. Klub-klub Indonesia yang sering kali mengadopsi praktik dari luar negeri perlu berhati-hati agar tidak terjebak dalam pelanggaran serupa. Selain itu, perlindungan terhadap staf junior dari tekanan atasan juga menjadi pelajaran berharga.
Ke depan, Southampton harus menjalani musim depan tanpa play-off dan dengan poin minus. Pertanyaan besarnya: mampukah Eckert membangun kembali kepercayaan suporter dan membawa tim kembali ke Premier League? Ataukah skandal ini justru menjadi awal dari kehancuran proyek Solak di klub pesisir selatan Inggris itu?



