SBY Beberkan Tiga Pilar Selamatkan Indonesia dari Krisis: Kredibilitas, Fiskal, dan Partisipasi
Baca dalam 60 detik
- Mantan Presiden SBY mengungkap strategi Indonesia bertahan dari krisis global 2008 melalui kredibilitas, disiplin fiskal, dan permintaan domestik.
- Pengalaman rekonstruksi Aceh pasca-tsunami 2004 dan diplomasi iklim Bali 2007 menjadi modal penting dalam menghadapi krisis multidimensi.
- SBY menekankan tiga pilar pembangunan berkelanjutan—kebijakan, praktik, dan pendanaan—sebagai fondasi ketahanan ekonomi Indonesia ke depan.

Di tengah ketidakpastian ekonomi global yang kembali menghantui, Presiden RI keenam Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) membagikan resep Indonesia selamat dari krisis keuangan 2008: bukan sekadar angka-angka fiskal, melainkan kualitas tata kelola dan kepercayaan pasar. Dalam pidatonya di The 4th Perbanas International Conference on Economics, Business, Management, Accounting and IT (PROFICIENT 2026) di Jakarta, Selasa (2/6/2026), SBY menekankan bahwa kredibilitas menjadi kata kunci yang membedakan Indonesia dari negara-negara yang jatuh lebih dalam.
SBY mengingatkan bahwa pada masa pemerintahannya (2004–2014), Indonesia menghadapi tiga ujian besar: tsunami Aceh 2004, krisis keuangan global 2008, dan tantangan perubahan iklim. Dari setiap krisis, ia memetik pelajaran bahwa ketahanan tidak datang dari keberuntungan, melainkan dari strategi yang terencana. "Kita belajar bahwa kredibilitas itu penting. Di masa ketidakpastian, pasar tidak hanya mendengarkan angka, tetapi juga kualitas tata kelola," ujar SBY di hadapan akademisi dan praktisi ekonomi.
Menurut SBY, keberhasilan Indonesia melewati krisis 2008 ditopang oleh empat pilar: mempertahankan kepercayaan, kehati-hatian fiskal, mengandalkan permintaan domestik, dan koordinasi kebijakan yang solid. Strategi ini memungkinkan Indonesia tetap tumbuh di saat negara-negara lain terpuruk. Bagi investor dan pelaku pasar di Indonesia, pesan ini relevan mengingat tekanan global saat ini—dari suku bunga tinggi hingga perlambatan ekonomi China—kembali menguji ketahanan fundamental ekonomi nasional.
SBY juga menyoroti pengalaman membangun kembali Aceh pasca-tsunami 2004. Ia menegaskan bahwa rekonstruksi bukan hanya soal infrastruktur fisik, tetapi juga pemulihan martabat dan kepercayaan masyarakat. "Pembangunan menjadi berkelanjutan ketika masyarakat merasa bahwa mereka adalah bagian dari proses tersebut. Itu penting," tuturnya. Pelajaran ini, menurut para analis, menjadi modal berharga bagi Indonesia dalam menghadapi bencana atau krisis di masa depan, termasuk dalam penanganan pandemi dan pemulihan ekonomi pasca-COVID-19.
Tak hanya soal domestik, SBY juga mengangkat pengalaman Indonesia dalam diplomasi iklim global, khususnya Konferensi Iklim Bali 2007. Ia menekankan bahwa negara berkembang seperti Indonesia harus proaktif menjadi bagian dari solusi, bukan sekadar penonton. Hal ini sejalan dengan komitmen Indonesia menuju net zero emission 2060 dan transisi energi yang kini tengah berjalan. Bagi pembaca di Indonesia, pesan ini mengingatkan bahwa krisis iklim juga merupakan krisis ekonomi yang membutuhkan pendekatan terpadu.
Menutup pidatonya, SBY menggarisbawahi bahwa pembangunan berkelanjutan harus didasarkan pada tiga pilar yang saling terkait: kebijakan yang visioner, praktik yang inklusif, dan pendanaan yang berkelanjutan. Tanpa salah satu pilar, kata dia, tujuan pembangunan akan sulit tercapai. Lantas, mampukah pemerintahan saat ini dan para pemangku kepentingan mengimplementasikan tiga pilar tersebut di tengah gejolak global yang kian kompleks? Pengalaman SBY menjadi pengingat bahwa krisis bukan akhir, melainkan momentum untuk memperkuat fondasi.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7734488/original/044458100_1780540374-2.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7734493/original/027373100_1780540375-6.jpg)