Relief Candi Bumiayu: Arsip Keanekaragaman Hayati Lahan Basah Sumatera yang Kian Sirna
Baca dalam 60 detik
- Relief dan patung di Candi Bumiayu, Sumatera Selatan, mengabadikan flora-fauna lahan basah seperti teratai, palem, buaya muara, dan kura-kura Byuku yang kini sulit ditemukan.
- Perkebunan sawit yang meluas sejak 2000-an menjadi penyebab utama degradasi habitat di kawasan tersebut, mengancam keberadaan spesies yang terekam dalam artefak sejarah.
- Cerita rakyat setempat masih menyimpan ingatan tentang kekayaan hayati itu, namun tanpa konservasi, warisan alam ini bisa punah sebelum sempat dipelajari lebih lanjut.

Sebuah kompleks percandian Hindu-Siwha di Sumatera Selatan menyimpan lebih dari sekadar cerita spiritual—reliefnya menjadi katalog kehidupan lahan basah yang kini sebagian besar telah lenyap. Candi Bumiayu, yang ditetapkan sebagai cagar budaya nasional pada 2024, memperlihatkan jejak flora dan fauna seperti burung kuntul, buaya muara, dan beragam jenis teratai yang dulu melimpah di rawa gambut dan sungai sekitarnya. Namun, ekspansi perkebunan sawit yang masif dalam dua dekade terakhir telah mengubah wajah ekosistem tersebut, membuat banyak spesies yang terukir di batu candi hanya tinggal kenangan.
Terletak di Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Candi Bumiayu diperkirakan dibangun antara abad ke-9 hingga ke-12 Masehi, sezaman dengan Candi Muaro Jambi dan Muara Takus pada masa Sriwijaya. Arkeolog dari BRIN, Sondang M. Siregar, mengungkapkan bahwa relief dan patung di candi ini menggambarkan kekayaan hayati lahan basah Lematang-Penukal. Fauna yang teridentifikasi antara lain burung nuri, burung beo, ular, kura-kura, sapi, dan kera. Sementara flora meliputi teratai (Nymphaea dan Nelumbo) serta aneka palem seperti aren, nibung, nipah, serdang, dan kelapa. “Semua itu merupakan simbol kesucian, kesetiaan, dan kekuatan,” ujar Sondang.
Sayangnya, dari sekian banyak flora dan fauna yang terekam, hanya sebagian kecil yang masih dapat dijumpai di lanskap saat ini. Buaya muara, misalnya, kini hanya sesekali terlihat di muara Sungai Penukal yang terhubung dengan Sungai Musi. “Di rawa dan sungai ke hilir, sudah sulit ditemukan,” kata Ibrahim, warga Desa Tempirai. Kura-kura Byuku (Orlitia borneensis), spesies dilindungi yang masuk CITES Appendix II, dulunya mudah ditemukan di sekitar candi, tetapi sekarang hanya tersisa tempurungnya yang disimpan warga seperti Kasmin. Burung kuntul masih relatif umum, terutama di Danau Burung saat musim kemarau tiba.
Penyebab utama kemerosotan ini, menurut budayawan Penukal Amrullah Marsup, bukanlah permukiman atau sawah tradisional, melainkan perkebunan sawit yang mulai marak sejak awal 2000-an. “Masyarakat membangun rumah panggung di lahan basah, dan kebun karet di lahan kering. Hanya sawit yang bisa ditanam di rawa gambut,” jelasnya. Data BPS mencatat luas perkebunan sawit di PALI mencapai 70.268 hektar, hampir dua kali lipat luas perkebunan karet (37.275 hektar), sementara total luas kabupaten ini hanya 184 ribu hektar—terkecil di Sumatera Selatan.
Meskipun secara fisik fauna tersebut sulit ditemukan, ingatan kolektif masyarakat tetap hidup melalui sastra tutur. Legenda Danau Burung, misalnya, mengisahkan perang antara ribuan burung yang dipimpin elang brontok melawan manusia yang hendak merusak hutan. Cerita lain, seperti “Burung Elang dan Sang Piatu” serta “Andai-andai Perayun” tentang buaya muara, menunjukkan hubungan erat antara manusia dan alam di masa lalu. “Burung elang juga banyak disebutkan dalam mantra,” tambah Amrullah. Kekayaan naratif ini menjadi pengingat bahwa keanekaragaman hayati bukan hanya aset ekologis, tetapi juga warisan budaya yang tak ternilai.
Bagi Indonesia, kasus Candi Bumiayu menjadi cermin ironis: di satu sisi, pemerintah giat menetapkan cagar budaya untuk melindungi artefak masa lalu, namun di sisi lain, kebijakan tata ruang dan investasi perkebunan justru mengancam habitat yang menjadi subjek dari artefak itu sendiri. Pertanyaannya, mampukah otoritas lokal dan pusat menyelaraskan pelestarian warisan budaya dengan pengelolaan lahan basah yang berkelanjutan? Ataukah relief candi ini akan menjadi satu-satunya saksi bisu kekayaan hayati yang pernah ada?



