Monyet Punch Viral Kumpulkan Donasi Rp4,3 Miliar, Kebun Binatang Jepang Perpanjang Masa Penerimaan
Baca dalam 60 detik
- Donasi untuk monyet Jepang bernama Punch yang viral karena memeluk boneka mencapai 43 juta yen, mendorong perpanjangan masa penerimaan hingga akhir 2025.
- Dana tersebut akan digunakan untuk meningkatkan fasilitas kandang monyet, termasuk pemasangan AC dan area istirahat, sebagai respons atas insiden penyusupan.
- Kebun binatang berharap Punch segera melepaskan bonekanya karena perilaku itu menandakan kecemasan, bukan sekadar atraksi lucu.

Pemerintah Kota Ichikawa, Prefektur Chiba, Jepang, mengumumkan perpanjangan masa penerimaan donasi untuk monyet Jepang bernama Punch hingga 31 Desember 2025, setelah dana yang terkumpul mencapai 43 juta yen (sekitar Rp4,3 miliar) dari dalam dan luar negeri. Punch menjadi sensasi global karena kebiasaannya memeluk boneka orangutan kesayangannya, menarik perhatian publik dan memicu gelombang dukungan finansial.
Donasi awalnya ditutup pada 31 Mei 2025, namun tingginya permintaan dari para pendukung membuat pemerintah kota memutuskan memperpanjang periode penggalangan dana. Langkah ini diambil setelah pada Maret lalu kota meluncurkan panduan dukungan bertajuk "#Gambare Punch supporters guide" sebagai respons atas banyaknya pertanyaan dari masyarakat yang ingin menyumbang. Gerakan solidaritas ini meluas hingga ke luar Jepang, terutama setelah insiden penyusupan dua orang ke kandang monyet pada 17 Mei yang memicu lonjakan donasi sebesar 4 juta yen dalam waktu singkat.
Dana yang terkumpul akan dialokasikan untuk meningkatkan kesejahteraan hewan di Kebun Binatang Kota Ichikawa, terutama Punch dan penghuni lainnya. Pemerintah kota juga telah menyiapkan anggaran tambahan sebesar 70 juta yen dalam rancangan anggaran tambahan yang akan diajukan ke dewan kota bulan ini. Proyek perbaikan kandang monyet mencakup pemasangan tenda peneduh, pembuatan lubang tanah, pemasangan AC di area belakang, perluasan area istirahat, serta renovasi fasilitas air untuk keperluan pembersihan.
Fenomena Punch menarik perhatian karena kebiasaannya membawa boneka orangutan ke mana pun ia pergi, termasuk saat tampil di hadapan pengunjung. Namun, menurut perwakilan kebun binatang, frekuensi Punch membawa boneka itu kini menurun menjadi sekitar sekali seminggu. "Bagi pengunjung, melihat pemandangan itu mungkin dianggap keberuntungan, tetapi dari sudut pandang kebun binatang, itu adalah tanda bahwa Punch sedang cemas. Kami berharap ia segera melepaskan boneka itu," ujar seorang perwakilan kebun binatang.
Kisah Punch mengingatkan pada fenomena hewan viral di Indonesia, seperti kera ekor panjang yang sering muncul di media sosial. Namun, kasus Punch menyoroti pentingnya kesejahteraan hewan di kebun binatang, terutama ketika perilaku yang dianggap lucu justru bisa menjadi indikator stres. Di Indonesia, beberapa kebun binatang masih menghadapi tantangan serupa dalam hal fasilitas dan perawatan psikologis hewan. Ke depannya, pertanyaan yang muncul adalah apakah tren donasi seperti ini bisa menjadi model pendanaan berkelanjutan untuk kebun binatang di Asia, termasuk Indonesia, yang kerap kekurangan anggaran untuk perbaikan kandang dan pengayaan lingkungan.



