Piala AFF U-19 2026: Malaysia Bawa Misi Pembentukan Tim, Bukan Gelar
Baca dalam 60 detik
- Malaysia U-19 mengikuti Piala AFF U-19 2026 di Medan tanpa target juara, fokus pada pengembangan pemain dan persiapan kualifikasi Piala Asia U-20 2027.
- Skuad Harimau Malaya Muda dihuni 23 pemain, dengan dominasi dari Johor Darul Ta'zim (15 pemain) dan dua pemain diaspora.
- Thailand menjadi lawan terkuat di Grup B, sementara Malaysia di atas kertas bersaing dengan Singapura untuk merebut tempat semifinal.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5435468/original/017655300_1765069491-nafuzi.jpg)
Pelatih Timnas Malaysia U-19, Nafuzi Zain, tidak memasang target muluk pada Piala AFF U-19 2026 yang bergulir di Medan, Indonesia. Ia justru menjadikan turnamen ini sebagai laboratorium pembentukan karakter dan mental juara bagi skuad mudanya, yang juga disiapkan menghadapi kualifikasi Piala Asia U-20 2027.
Malaysia tergabung di Grup B bersama Thailand, Singapura, dan Brunei Darussalam. Pertandingan perdana akan dijalani melawan Singapura, Selasa (2/6/2026) malam. Nafuzi menegaskan bahwa setiap laga di turnamen ini adalah kesempatan berharga bagi pemainnya untuk mengukur kemampuan di level internasional. "Pertandingan dengan intensitas tinggi seperti ini yang dibutuhkan pemain kami untuk berkembang. Kami menghormati semua lawan dan akan bersiap sebaik mungkin," ujarnya, seperti dikutip dari The Star.
Keputusan untuk tidak membebani pemain dengan target juara bukan tanpa alasan. Malaysia U-19 tengah dalam proses transisi setelah finis di peringkat keempat pada edisi 2024 di Surabaya. Kekalahan dari Australia melalui adu penalti saat itu menjadi pelajaran berharga. Kini, Nafuzi lebih memilih pendekatan jangka panjang dengan menjadikan Piala AFF U-19 sebagai batu loncatan menuju kualifikasi Piala Asia U-20 2027 yang akan berlangsung di Laos pada 31 Agustus hingga 6 September.
Dari segi komposisi pemain, Malaysia membawa 23 pemain dengan dominasi dari Johor Darul Ta'zim (JDT) yang menyumbang 15 pemain, termasuk Arayyan Hakeem Norizam yang masih berusia 17 tahun. Enam pemain lainnya berasal dari Selangor, sementara dua pemain diaspora—Luka Jordy Hodak (NK Trnje) dan Pravinash (MISC-Touchtronics FC)—juga dipanggil. Kehadiran pemain diaspora ini menunjukkan upaya Malaysia memperluas basis pencarian bakat, meski belum seagresif Indonesia dalam naturalisasi.
Secara historis, Malaysia memiliki catatan gemilang di turnamen ini dengan dua gelar juara (2018 dan 2022) serta enam kali menjadi runner-up. Namun, Nafuzi tidak ingin terjebak pada masa lalu. Ia lebih fokus membangun tim yang kompetitif untuk jangka panjang. "Kami menghormati setiap lawan, tetapi target utama adalah melihat perkembangan pemain dari pertandingan ke pertandingan," tambahnya.
Bagi Indonesia sebagai tuan rumah, kehadiran Malaysia di Grup B menjadi salah satu ujian bagi Timnas U-19 Indonesia yang juga berlaga di turnamen yang sama. Persaingan di level junior ini kerap menjadi tolok ukur kekuatan sepak bola usia muda di Asia Tenggara. Jika Malaysia mampu tampil konsisten di Medan, bukan tidak mungkin mereka akan menjadi ancaman serius di kualifikasi Piala Asia U-20 mendatang.
Pertanyaan besarnya: akankah pendekatan tanpa target juara ini justru membuat Malaysia tampil lebih lepas dan merebut gelar ketiga mereka, atau justru membuat mereka kehilangan momentum di hadapan Thailand yang selalu menjadi momok?



