Keberanian Ambil Risiko Jadi Ciri Pemimpin Sukses, Kata KSP Dudung
Baca dalam 60 detik
- Kepala Staf Kepresidenan Dudung Abdurachman menekankan bahwa pemimpin sukses harus memiliki imajinasi, inovasi, visi, dan keberanian mengambil keputusan berisiko.
- Pernyataan itu disampaikan saat meninjau program pembinaan di Lapas Nusakambangan yang disebut sebagai contoh transformasi pemasyarakatan.
- Dudung mengapresiasi program ketahanan pangan di lapas tersebut dan akan melaporkannya ke Presiden sebagai model bagi kementerian lain.

Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Dudung Abdurachman menegaskan bahwa pemimpin yang berhasil tidak cukup hanya memiliki visi, melainkan harus berani mengambil risiko dalam setiap keputusan โ sebuah sikap yang menurutnya membedakan pemimpin biasa dari yang luar biasa.
Dalam kunjungannya ke Pulau Nusakambangan, Cilacap, Selasa (25/3), Dudung memaparkan lima ciri utama pemimpin sukses: imajinasi, inovasi, visi dan misi, cita-cita, serta keberanian mengambil keputusan meskipun berisiko. โKeberhasilan dan kemenangan itu berasal dari keberanian,โ ujarnya. Ia menambahkan bahwa pemimpin yang tidak pernah mengambil risiko hanya akan berjalan di tempat.
Ia merujuk pada transformasi di Lembaga Pemasyarakatan Nusakambangan sebagai bukti bahwa perubahan besar dimulai dari kepemimpinan yang berani. Menurut Dudung, lapas tidak lagi sekadar tempat menjalani hukuman, melainkan ruang rehabilitasi yang mampu melahirkan warga negara produktif. โPembinaan mampu melahirkan warga produktif sekaligus berkontribusi pada ketahanan pangan yang digalakkan Presiden,โ katanya.
Dalam peninjauannya, Dudung mengecek sejumlah balai latihan kerja (BLK) yang mendukung ketahanan pangan, antara lain BLK Budi Daya Sidat, Peternakan Kambing, Perkebunan Anggur dan Anggrek, Tambak Udang Vaname, serta Peternakan Ayam Petelur dan Bebek. Ia mengapresiasi inisiatif Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kemenimipas) di bawah Menteri Agus Andrianto, dan berjanji akan melaporkannya ke Presiden sebagai model integritas dan kemauan.
Bagi kalangan profesional dan birokrat di Indonesia, pernyataan Dudung menggarisbawahi tantangan kepemimpinan di era reformasi birokrasi: bagaimana menyeimbangkan inovasi dengan risiko. Di tengah dorongan efisiensi dan target kinerja, keberanian mengambil keputusan kerap terhambat oleh budaya takut salah. Model Nusakambangan dinilai bisa menjadi referensi bagi institusi lain untuk berani bertransformasi tanpa meninggalkan tujuan utama.
Pertanyaan yang mengemuka: apakah keberanian semacam ini akan menular ke kementerian lain, atau justru terhenti sebagai proyek percontohan? Jawabannya akan sangat bergantung pada kemauan pemimpin di level bawah untuk meniru apa yang sudah dimulai di Nusakambangan.



