McTominay: Keluar dari Zona Nyaman di Manchester United, Bersinar di Napoli
Baca dalam 60 detik
- Gelandang Skotlandia Scott McTominay mengakui kepindahannya ke Napoli pada 2024 telah mengubah karier dan gaya hidupnya secara drastis.
- Bermain sebagai gelandang serang (No 8) dan dukungan pelatih menjadi kunci kebangkitannya, membawa Napoli juara Serie A dan Skotlandia lolos Piala Dunia.
- McTominay juga beradaptasi dengan budaya Italia, mulai dari mode pakaian hingga gaya rambut, yang membuatnya lebih percaya diri.

Keputusan Scott McTominay meninggalkan Manchester United pada 2024 terbukti menjadi titik balik dalam kariernya. Kini, gelandang asal Skotlandia itu tidak hanya menjelma menjadi pemain kunci Napoli, tetapi juga mengubah total cara pandangnya terhadap sepak bola dan kehidupan.
Dalam wawancara dengan majalah GQ Inggris, McTominay mengungkapkan bahwa keluar dari zona nyaman adalah langkah menakutkan namun indah. “Itu memberi ruang untuk bertumbuh,” ujarnya. Sejak bergabung dengan Napoli dengan nilai transfer €30,5 juta, performanya meroket. Pada musim pertamanya, ia dinobatkan sebagai Pemain Terbaik Serie A, membawa Napoli meraih Scudetto, dan masuk nominasi Ballon d’Or.
Musim keduanya tak kalah gemilang: Napoli menjuarai Supercoppa Italiana, finis kedua di Serie A, dan yang terpenting, McTominay menjadi pahlawan bagi Skotlandia dengan membawa negaranya lolos ke Piala Dunia untuk pertama kalinya sejak 1998. Golnya berupa tendangan salto ke gawang Denmark—yang dikawal rekan setimnya di Napoli, Rasmus Hojlund—kini diabadikan dalam mural raksasa di dekat Hampden Park, Glasgow.
Perbedaan utama antara performanya di Manchester United dan Napoli, menurut McTominay, terletak pada posisi bermain. “Saya bermain sebagai No 8, posisi natural saya, di mana saya bisa menyerang dan bertahan. Saya langsung nyaman,” jelasnya. Dukungan pelatih dan staf kepelatihan juga menjadi faktor besar. “Mereka membantu saya memahami permainan lebih baik. Hasil kerja keras akhirnya terlihat, dan saya bisa membantu tim memenangi liga. Tapi saya tidak ingin berpuas diri; saya ingin terus mendorong batas.”
Tak hanya di lapangan, McTominay juga mengalami transformasi gaya hidup. Saat Napoli bertandang ke Manchester untuk laga Liga Champions, penduduk setempat terkejut melihat perubahan penampilannya. “Saya suka pakaian di sini, cara orang berpakaian, kain yang mereka gunakan. Saya menikmati belajar cara tampil rapi,” katanya. Ia mengaku memiliki penjahit pribadi dan lebih memilih pakaian simpel tanpa banyak logo. Gaya rambutnya pun berubah: dari sering berganti model di Manchester, kini ia memilih rambut panjang yang lebih nyaman.
Kebersamaan dengan rekan setim juga diwarnai candaan. Setelah gol salto McTominay mengalahkan Denmark yang diperkuat Hojlund, ia bersama Billy Gilmour memenuhi loker Hojlund dengan foto-foto momen tersebut. “Kami tempel semua foto dari pertandingan itu di lokernya,” ujar McTominay.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kisah McTominay menjadi contoh nyata bagaimana keputusan berani meninggalkan klub besar demi menit bermain reguler dapat membuahkan hasil gemilang. Di tengah dominasi Liga Inggris, para pemain Asia Tenggara yang merantau ke Eropa bisa belajar dari adaptasi kultural dan taktis yang dijalani McTominay. Pertanyaannya, akankah semakin banyak pemain dari luar lima liga top Eropa yang berani mengambil langkah serupa?



