Inter Siap Tukar Frattesi dengan Mancini: Strategi Hemat di Bursa Transfer
Baca dalam 60 detik
- Inter Milan berencana memasukkan gelandang Davide Frattesi dalam paket pertukaran dengan AS Roma untuk mengamankan bek tengah Gianluca Mancini.
- Langkah ini diambil Inter untuk menekan biaya transfer di tengah kebutuhan mendesak memperkuat lini belakang setelah kepergian sejumlah pemain senior.
- Frattesi, yang minim menit bermain musim ini, kemungkinan besar akan kembali ke kota kelahirannya Roma jika kesepakatan tercapai.

Inter Milan dikabarkan siap menjadikan Davide Frattesi sebagai alat tukar dalam negosiasi dengan AS Roma untuk mendapatkan Gianluca Mancini. Langkah ini menjadi strategi klub raksasa Serie A itu untuk menekan pengeluaran di bursa transfer musim panas, di tengah kebutuhan mendesak merombak lini pertahanan.
Kepergian Francesco Acerbi dan Matteo Darmian yang kontraknya habis akhir musim, ditambah potensi hengkangnya Yann Bisseck yang diminati Bayern Munich, membuat Inter harus bergerak cepat. Dua nama utama yang masuk radar adalah Oumar Solet dari Udinese dan Mancini dari Roma. Mancini, yang kontraknya tersisa satu tahun di Olimpico, dinilai sebagai opsi paling realistis secara finansial.
Menurut laporan Gianluca Di Marzio dan Sky Sport Italia, Inter berharap dengan memasukkan Frattesi dalam kesepakatan, mereka bisa mendapatkan Mancini dengan harga lebih murah. Roma sendiri belum mencapai kata sepakat soal perpanjangan kontrak Mancini yang saat ini berlaku hingga 2027, membuka peluang bagi Inter untuk menawar.
Frattesi, yang musim ini hanya menjadi pemain pelapis di bawah asuhan Cristian Chivu, tercatat hanya tampil sebagai starter tiga kali di Serie A, tiga kali di Liga Champions, dan tiga kali di Coppa Italia. Minimnya kesempatan bermain membuatnya semakin mungkin meninggalkan San Siro. Menariknya, Frattesi adalah produk asli akademi Roma—ia menghabiskan tiga tahun bersama Giallorossi antara 2014 dan 2017 sebelum pindah ke Sassuolo—sehingga kepulangannya ke klub ibu kota memiliki nilai emosional dan praktis.
Bagi Inter, skema tukar tambah ini bukan sekadar soal penghematan. Mancini, yang dikenal sebagai bek tangguh dengan kemampuan membaca permainan, bisa menjadi solusi jangka panjang di jantung pertahanan. Sementara bagi Roma, mendapatkan kembali Frattesi—gelandang bertalenta yang haus akan menit bermain—bisa menjadi suntikan energi baru di lini tengah. Namun, risiko bagi Inter adalah jika Frattesi bersinar di Roma, keputusan ini bisa menjadi bumerang.
Dari perspektif sepak bola Indonesia, skenario ini mengingatkan pada pola transfer yang kerap terjadi di Liga 1, di mana pemain muda dipinjamkan atau ditukar untuk menekan biaya. Namun, level negosiasi di Serie A jelas jauh lebih kompleks, melibatkan nilai pasar pemain dan dinamika kontrak. Jika kesepakatan ini terwujud, akan menjadi contoh bagaimana klub besar Eropa berinovasi di tengah keterbatasan finansial.
Pertanyaan selanjutnya: akankah Roma menyetujui tawaran ini, atau justru memilih mempertahankan Mancini dengan kontrak baru? Keputusan dalam beberapa pekan ke depan akan menentukan arah bursa transfer Italia musim panas ini.



