Pierre Sage Calon Kuat Pengganti Glasner di Crystal Palace, Negosiasi Pekan Ini
Baca dalam 60 detik
- Crystal Palace dijadwalkan menggelar pembicaraan dengan Pierre Sage awal pekan ini setelah gagal mendatangkan Andoni Iraola.
- Pelatih RC Lens itu memiliki persentase kemenangan karier tertinggi di antara kandidat lain, mencapai 64%.
- Kesuksesan Sage membawa Lens juara Piala Prancis dan runner-up Ligue 1 musim lalu membuatnya diminati banyak klub.
Crystal Palace akhirnya menemukan kandidat utama untuk menggantikan Oliver Glasner setelah gagal memboyong Andoni Iraola. Klub asal London Selatan itu dikabarkan akan menggelar negosiasi dengan Pierre Sage, pelatih RC Lens, pada awal pekan ini.
Ketua Steve Parish sebelumnya mengincar Iraola yang sukses membawa Bournemouth lolos ke Liga Europa. Namun, pelatih asal Spanyol itu lebih memilih bergabung dengan Liverpool, memaksa Palace beralih ke target lain. Sean Dyche sempat disebut sebagai opsi, tetapi pengalamannya yang identik dengan perjuangan menghindari degradasi dinilai kurang ambisius untuk klub yang ingin bersaing di papan atas.
Pierre Sage muncul sebagai kandidat mengejutkan. Pelatih berusia 47 tahun itu mencatatkan rekor impresif bersama Lens musim lalu: menjuarai Piala Prancis untuk pertama kalinya dalam sejarah klub dan finis sebagai runner-up Ligue 1, hanya enam poin di belakang Paris Saint-Germain yang juga menjadi juara Liga Champions. Dengan persentase kemenangan karier mencapai 64%, Sage menjadi yang tertinggi di antara semua calon yang dipertimbangkan Palace.
Menurut laporan BBC Sport, Sage terbuka untuk pindah ke Selhurst Park. Meski demikian, Parish tidak ingin terburu-buru mengambil keputusan. Ia berencana mempertimbangkan beberapa kandidat lain yang masih dalam daftar, termasuk kemungkinan mempertahankan asisten pelatih atau mendatangkan nama asing lainnya. Sikap hati-hati ini menunjukkan Palace ingin memastikan langkah tepat setelah kepergian Glasner yang sukses membawa tim ke posisi aman.
Mantan gelandang Manchester United, Nemanja Matic, yang pernah bekerja sama dengan Sage di Lyon, memberikan pujian tinggi. "Pierre adalah orang yang jujur dan manusia luar biasa. Secara profesional, dia pelatih hebat, termasuk stafnya. Pengalaman bekerja dengannya sama baiknya dengan apa pun yang saya alami sepanjang karier," ujar Matic seperti dikutip media Prancis.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, perburuan pelatih Palace ini menarik karena menunjukkan bagaimana klub Liga Premier berani melirik pelatih dari liga lain yang belum setenar nama-nama mapan. Keberhasilan Sage di Prancis bisa menjadi inspirasi bagi pelatih Asia, termasuk Indonesia, untuk menembus kompetisi elite Eropa.
Jika negosiasi berjalan mulus, Sage akan menjadi pelatih Prancis pertama yang menangani Crystal Palace sejak era modern. Pertanyaan besarnya: mampukah ia mempertahankan performa apik Lens di lingkungan Premier League yang jauh lebih kompetitif? Ataukah Parish akan kembali mengejutkan dengan pilihan lain?



