Krisis AC Milan Memuncak: Suporter Kembali Hujani Manajemen dengan Grafiti dan Spanduk Kasar
Baca dalam 60 detik
- Grafiti dan spanduk baru di sekitar San Siro menargetkan pemilik RedBird Gerry Cardinale dan penasihat Zlatan Ibrahimovic, dengan tuntutan agar keduanya hengkang.
- Kekacauan di AC Milan dipicu kegagalan lolos ke Liga Champions dan pemecatan massal empat pejabat klub, namun Ibrahimovic justru selamat dari perombakan.
- Para suporter garis keras mendesak penjualan klub ke investor baru, menolak kompromi dan menginginkan perubahan total di tubuh Rossoneri.

Gelombang protes suporter AC Milan kembali memanas. Sejumlah grafiti dan spanduk bernada kasar kembali menghiasi area sekitar San Siro, kali ini secara khusus menyasar pemilik klub Gerry Cardinale dan penasihat senior Zlatan Ibrahimovic. Aksi ini menjadi buntut dari musim yang berakhir dengan kegagalan tim lolos ke Liga Champions, setelah takluk dari Cagliari di laga pamungkas.
Kekalahan tersebut memicu respons cepat dari Cardinale yang memecat empat pejabat tinggi klub dalam waktu 24 jam: pelatih Max Allegri, direktur olahraga Igli Tare, CEO Giorgio Furlani, dan direktur teknis Geoffrey Moncada. Langkah ini dianggap sebagai upaya membersihkan ruang ganti dan manajemen, namun satu nama justru selamat dari pemecatan massal itu: Zlatan Ibrahimovic, yang kini dipercaya memimpin pencarian pengganti para pejabat yang dipecat.
Keputusan tersebut tidak meredakan amarah suporter. Para ultras justru menganggap langkah Cardinale setengah hati dan menuntut perubahan yang lebih radikal, termasuk penjualan klub kepada investor baru. Spanduk-spanduk yang muncul pada hari ini menunjukkan pesan yang jelas: 'Cardinale bloodsucker' dan 'Cardinale go home' β keduanya ditulis dalam bahasa Inggris, menandakan sasaran protes adalah pemilik asal Amerika Serikat itu.
Sementara itu, pesan untuk Ibrahimovic ditulis dalam bahasa Italia namun tak kalah pedas. 'Ibra sabotatore, vattene' (Ibra saboteur, pergi) dan 'togliete questi stronzi dal nostro Milan' (keluarkan para bajingan ini dari Milan kami) menjadi dua di antara slogan yang terpampang. Tak hanya itu, Jovan Kirovski, kepala akademi yang juga bertanggung jawab atas Milan Futuro β tim kedua yang baru saja terdegradasi dari Serie C ke liga semi-profesional β juga menjadi sasaran dengan tulisan 'Kirovski dilettante, dimissioni immediate' (Kirovski amatir, segera mengundurkan diri).
Krisis di AC Milan ini menjadi cermin betapa kompleksnya dinamika klub sepak bola modern, terutama ketika kepemilikan asing dan ekspektasi suporter berbenturan. Bagi penggemar sepak bola di Indonesia, kisah ini mengingatkan pada kasus serupa di klub-klub Eropa yang mengalami gejolak akibat manajemen yang dianggap tidak berpihak pada tradisi. Para pengamat menilai bahwa tuntutan suporter untuk menjual klub bukanlah hal yang mudah, mengingat RedBird Capital Partners baru mengakuisisi Milan pada 2022 dengan nilai sekitar β¬1,2 miliar.
Menurut analis sepak bola Italia, situasi ini menunjukkan bahwa kepercayaan suporter terhadap proyek RedBird telah runtuh total. Keputusan mempertahankan Ibrahimovic β yang notabene merupakan legenda klub β justru dianggap sebagai strategi untuk meredam kritik, namun hasilnya malah sebaliknya. Ibrahimovic kini berada di posisi sulit: ia harus membangun kembali struktur klub di tengah tekanan publik yang menginginkannya pergi.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Cardinale bersedia menjual sahamnya atau justru akan melakukan perombakan lebih dalam dengan mengganti Ibrahimovic juga. Jika tidak, bukan tidak mungkin aksi protes akan terus berlanjut hingga musim depan, bahkan berpotensi mengganggu persiapan tim untuk kompetisi Eropa musim depan. Satu hal yang pasti: San Siro tidak akan sepi dari suara-suara ketidakpuasan dalam waktu dekat.



