Dari Klub Gurem ke Liga Champions: Como 1907 Buktikan Modal Bukan Segalanya
Baca dalam 60 detik
- Como 1907, klub Serie A milik Djarum Group, lolos ke Liga Champions setelah dibeli pada 2019, menunjukkan transformasi cepat.
- Kunci sukses Como bukan sekadar suntikan dana besar, melainkan manajemen strategis dan sistem organisasi yang adaptif.
- Pelajaran bagi perusahaan Indonesia: modal membuka peluang, tetapi tata kelola dan kapabilitas organisasi menentukan daya tahan global.

Como 1907, klub sepak bola Italia yang nyaris tak terdengar namanya sebelum 2019, musim depan akan berlaga di Liga Champions Eropa—sebuah loncatan yang membuktikan bahwa uang besar hanyalah salah satu bahan dalam resep sukses. Di bawah kepemilikan Djarum Group, klub yang berbasis di Danau Como ini tidak hanya naik kasta, tetapi juga menggeser raksasa macam AC Milan dan Juventus dari posisi elite Eropa.
Bagi publik Indonesia, prestasi Como tentu membangkitkan kebanggaan. Namun, di balik euforia tersebut, tersimpan pelajaran strategis yang jauh lebih dalam. Banyak pihak langsung menyimpulkan bahwa kesuksesan Como semata-mata karena sokongan modal konglomerat. Anggapan itu tidak sepenuhnya keliru, tetapi terlalu menyederhanakan realitas. Menurut laporan media olahraga Italia, meski Como termasuk salah satu klub dengan belanja pemain terbesar di Serie A musim lalu, anggaran gaji mereka hanya berada di peringkat ke-11 liga. Artinya, ada faktor lain yang bekerja.
Faktor itu adalah manajemen strategis yang diterapkan oleh presiden klub Mirwan Suwarso dan pelatih Cesc Fàbregas. Como dikelola bukan sebagai proyek gengsi pemilik, melainkan sebagai institusi profesional. Rekrutmen pemain dilakukan layaknya pengelolaan portofolio investasi, dengan analisis data yang ketat. Pengembangan talenta, tata kelola klub, disiplin finansial, dan ekspansi komersial dirajut menjadi satu sistem operasi yang terintegrasi. Pendekatan ini mencerminkan konsep dynamic capabilities dalam manajemen strategis: keunggulan kompetitif tidak hanya ditentukan oleh apa yang dimiliki organisasi, tetapi oleh kemampuannya untuk terus beradaptasi terhadap perubahan.
Kisah Como menjadi relevan bagi perusahaan Indonesia yang tengah berambisi go global. Di dalam negeri, tidak sedikit perusahaan yang memiliki akses modal besar, mampu membeli teknologi mutakhir, dan merekrut talenta mahal. Namun, hanya sedikit yang berhasil membangun sistem yang produktif dan adaptif dalam jangka panjang. Ketika pendanaan mengempis, banyak organisasi justru kalang-kabut. Pelajaran dari Como menegaskan bahwa modal hanyalah instrumen ekspansi, bukan strategi itu sendiri. Strategi sejati terletak pada kemampuan membangun keselarasan antara orang, proses, data, dan keputusan.
Tentu saja, satu musim belum cukup untuk menyatakan Como sebagai kekuatan permanen di Eropa. Tantangan terbesar justru baru dimulai: mampukah sistem yang dibangun bertahan ketika pemain bintang hengkang atau pelatih direkrut klub lain? Di sinilah ujian sesungguhnya bagi kapabilitas organisasi. Como belum menjadi raksasa, tetapi mereka telah menunjukkan bahwa yang menciptakan daya tahan bukanlah uang semata, melainkan kemampuan membangun institusi yang dapat bertahan melampaui individu.
Bagi pelaku usaha Indonesia, ambisi global memang membutuhkan modal. Namun, tanpa tata kelola yang baik, disiplin eksekusi, dan kapabilitas organisasi yang terus diperbarui, pintu global yang terbuka lebar bisa kembali tertutup. Pertanyaan kuncinya: apakah perusahaan Indonesia siap membangun sistem, bukan sekadar mengumpulkan aset?



