Enam Luka Tusuk di Balik Pesta Juara Arsenal: Kerumunan Besar, Keamanan Longgar
Baca dalam 60 detik
- Enam orang ditikam dan 24 ditangkap saat perayaan gelar Premier League Arsenal di London Utara, dengan satu korban kritis namun kini stabil.
- Lebih dari 500 polisi dikerahkan, namun insiden termasuk penyerangan terhadap petugas dan aksi seksual tak senonoh mewarnai pesta suporter.
- Peristiwa ini mengingatkan pentingnya manajemen kerumunan di Indonesia, terutama saat perayaan olahraga atau konser berskala besar.

Pesta kemenangan Arsenal meraih gelar Premier League berujung petaka. Enam orang menjadi korban tikaman dan 24 orang ditangkap dalam kerusuhan yang pecah di London Utara, Minggu malam waktu setempat. Seorang pria berusia 20-an sempat kritis setelah ditikam di Hornsey Road, namun kini dilaporkan stabil.
Perayaan yang dihadiri ratusan ribu suporter itu berlangsung sejak siang hingga malam. Polisi Metropolitan mengerahkan lebih dari 500 personel untuk mengamankan acara. Namun, kerumunan besar memicu sejumlah insiden kekerasan. Selain penikaman, seorang polisi mengalami luka sayat di tangan, dan rekannya dipukul benda keras di kepala. Empat mobil patroli di Theberton Street, Islington, rusak dengan penyok dan lampu pecah.
Dari 24 orang yang ditangkap, 10 di antaranya diduga menyerang polisi, tiga dicurigai melakukan pelecehan seksual, dan satu terancam tuduhan penganiayaan berat yang menyebabkan cedera kepala. Polisi juga memberikan wewenang penggeledahan tambahan sepanjang malam untuk meredam potensi kekerasan lanjutan.
Komandan Stuart Bell, yang memimpin operasi ketertiban umum, menyatakan bahwa mayoritas suporter bersikap aman dan bertanggung jawab. Namun, ia mengakui ada kantong perilaku antisosial dan insiden yang membutuhkan intervensi polisi, termasuk serangan terhadap petugas. "Seiring malam berlangsung dan kerumunan mulai pulang, terjadi kekerasan lebih lanjut, termasuk insiden yang melibatkan geng," ujarnya.
Sebelumnya, Dinas Pemadam Kebakaran London telah memperingatkan penggemar agar tidak memanjat atap setelah petugas menyelamatkan 75 orang yang terjebak. Insiden ini mengingatkan pada kerusuhan serupa di Inggris, seperti saat perayaan gelar Liverpool pada 2020 yang juga diwarnai kerumunan tanpa jarak.
Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi pelajaran berharga. Perayaan olahraga atau konser berskala besar di Tanah Air kerap memicu kerumunan tanpa pengamanan memadai. Tragedi Kanjuruhan 2022 membuktikan bahwa manajemen kerumunan yang buruk bisa berakibat fatal. Pemerintah dan penyelenggara acara perlu mengevaluasi prosedur keamanan, termasuk pengaturan akses, penempatan personel, dan antisipasi kekerasan.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah: apakah klub dan otoritas Inggris akan memperketat protokol perayaan serupa? Ataukah insiden ini hanya menjadi catatan kaki dalam euforia juara? Yang jelas, nyawa dan keselamatan publik harus menjadi prioritas di atas segalanya.



