Harga Minyak Turun Drastis Imbas Isyarat Buka Selat Hormuz, tapi Pemulihan Asia Masih Jauh
Baca dalam 60 detik
- Harga minyak mentah Brent merosot 11,15% dalam sepekan setelah AS dan Iran memberi sinyal negosiasi pembukaan kembali Selat Hormuz.
- Meski harga turun, analis memperingatkan pemulihan pasokan energi Asia akan terhambat oleh antrean kapal, stok menipis, dan kerusakan infrastruktur.
- Ketegangan geopolitik masih tinggi, termasuk serangan rudal Iran ke pangkalan Kuwait, yang berpotensi memperpanjang ketidakpastian pasar.

Harga minyak mentah dunia mencatat penurunan mingguan terdalam sejak awal April, setelah muncul sinyal negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz. Namun, para analis menilai bahwa dampak positif dari potensi kesepakatan itu belum akan dirasakan secara cepat oleh negara-negara pengimpor energi di Asia, termasuk Indonesia.
Brent crude, acuan harga minyak global, anjlok 11,15 persen ke level 92,13 dolar AS per barel pada Jumat pekan lalu. Meski sempat merangkak naik ke kisaran 93 dolar AS pada awal pekan ini, angka tersebut masih jauh dari puncak 119,50 dolar AS yang sempat tercatat pada 9 Maret lalu. Penurunan ini dipicu oleh optimisme pasar bahwa Selat Hormuz—jalur vital bagi ekspor energi Teluk ke Asia—akan kembali beroperasi normal setelah berbulan-bulan terganggu.
Namun, optimisme itu tidak serta-merta menghapus kekhawatiran. Para pengamat energi menilai pemulihan pasokan akan berlangsung lebih lambat dan tidak merata dibandingkan penurunan harga yang terjadi. “Prosesnya akan memakan waktu jauh lebih lama,” kata seorang analis dari lembaga riset energi di Singapura. Antrean kapal tanker yang mengular, stok minyak yang menipis, serta kerusakan fasilitas di beberapa titik menjadi beban berat bagi negara-negara Asia yang sangat bergantung pada impor energi.
Bagi Indonesia, situasi ini menjadi pengingat akan kerentanan pasokan energi nasional. Meski pemerintah telah berupaya meningkatkan produksi domestik, ketergantungan pada impor minyak mentah masih tinggi. Setiap gangguan di jalur suplai global, seperti yang terjadi di Selat Hormuz, berpotensi menekan anggaran subsidi energi dan memicu kenaikan harga bahan bakar di dalam negeri. Belum lagi dampak lanjutan terhadap inflasi dan daya beli masyarakat.
Di sisi lain, ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah belum mereda. Akhir pekan lalu, sebuah rudal balistik Iran menghantam pangkalan udara Kuwait, melukai ringan sejumlah personel Amerika Serikat. Sementara itu, Israel meningkatkan serangan terhadap kelompok Hizbullah yang didukung Iran di Lebanon. Eskalasi ini menunjukkan bahwa risiko gangguan pasokan masih mengintai, terlepas dari prospek negosiasi Selat Hormuz.
Pasar kini menanti langkah konkret dari Washington dan Teheran. Jika kesepakatan tercapai, harga minyak berpotensi turun lebih lanjut. Namun, jika negosiasi gagal atau ketegangan baru muncul, lonjakan harga bisa terjadi kembali. Pertanyaan besarnya: seberapa cepat Asia—dan Indonesia—dapat beradaptasi dengan volatilitas yang tak kunjung reda?



