John Travolta: Saya Tidak Diciptakan untuk Tenggelam dalam Kegelapan
Baca dalam 60 detik
- Aktor John Travolta mengungkapkan cara menghadapi duka setelah kehilangan putra dan istrinya, dengan memilih fokus pada sisi positif kehidupan.
- Film debut sutradara Travolta, 'Propeller One-Way Night Coach', didedikasikan untuk mendiang istri dan putranya, mendapat sambutan hangat di Cannes.
- Putri Travolta, Ella Bleu, menggunakan lagu sebagai medium berduka, menulis 'Little Bird' untuk ibunya.

John Travolta, aktor legendaris Hollywood yang kini berusia 72 tahun, memilih untuk tidak larut dalam kesedihan meskipun harus kehilangan dua orang terkasih dalam hidupnya. Putra sulungnya, Jett, meninggal dunia pada 2009 di usia 16 tahun, disusul kepergian sang istri, Kelly Preston, pada 2020 setelah berjuang melawan kanker payudara selama dua tahun. Dalam wawancara dengan harian Italia La Repubblica, Travolta mengaku bahwa dirinya tidak diciptakan untuk terus-menerus berada dalam kegelapan.
“Hidup memang menguji saya, tetapi sifat saya adalah mencari sisi positif, bahkan saat menghadapi hal terburuk sekalipun,” ujar Travolta. “Saya bisa melihat kegelapan, tapi saya tidak memilih untuk mati di dalam kegelapan itu.” Pernyataan ini menjadi inti dari cara Travolta menghadapi duka yang bertubi-tubi. Alih-alih membiarkan dirinya terpuruk, ia memilih untuk mengalihkan energi emosionalnya ke dalam karya seni.
Bukti nyata dari semangat pantang menyerah itu adalah film debut penyutradaraannya, Propeller One-Way Night Coach, yang ia tulis, sutradarai, dan narasikan sendiri. Film berdurasi 61 menit ini didasarkan pada novel anak-anak yang ia tulis pada 1997, yang mendokumentasikan pengalaman penerbangan pertamanya pada 1962. Travolta mendedikasikan film tersebut untuk mendiang istri dan putranya. “Merekalah model dari lahirnya film ini,” katanya. Film ini dibintangi oleh putrinya, Ella Bleu Travolta (26 tahun), bersama Clark Shotwell, Kelly Eviston-Quinnett, dan Olga Hoffmann.
Karya Travolta mendapat sambutan luar biasa saat ditayangkan perdana di Festival Film Cannes. Penonton memberikan empat kali standing ovation, dan ia dikejutkan dengan penganugerahan Palme d'Or kehormatan. Travolta berharap filmnya dapat menginspirasi penonton untuk kembali menemukan “pandangan penuh harapan” yang mulai pudar di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern. “Pada 1962, kita tidak terlalu dibebani oleh kewajiban untuk selalu melihat sisi gelap kehidupan,” ujarnya.
Sementara itu, Ella Bleu Travolta juga memiliki cara unik dalam berduka. Ia menggunakan lagu sebagai medium untuk menyampaikan pesan terakhir kepada ibunya. Dalam wawancara dengan The Today Show, Ella mengungkapkan bahwa lagu Little Bird adalah “pesan murni” yang ingin ia sampaikan kepada sang ibu. “Meskipun ada banyak dukungan dari orang lain, kadang hal itu justru menghalangi cara kita benar-benar merasa dan bagaimana kita ingin menyampaikan kata-kata terakhir kepada orang tersebut,” jelasnya.
Kisah Travolta dan keluarganya menjadi pengingat bahwa duka dapat diolah menjadi energi kreatif yang positif. Di tengah budaya yang kerap mendorong orang untuk terus-menerus meratapi kehilangan, pilihan Travolta untuk “tidak mati dalam kegelapan” menawarkan perspektif alternatif. Pertanyaan yang tersisa: akankah pendekatan ini menjadi tren baru dalam cara publik figur menghadapi tragedi pribadi?



