Tom Holland: Versi Mabuk Saya Sangat Tidak Hollywood
Baca dalam 60 detik
- Aktor Spider-Man itu mengaku pola minumnya lebih sering dilakukan sendirian di kamar hotel, bukan di klub malam.
- Keputusan berhenti minum alkohol pada 2022 berawal dari tantangan Dry January yang kemudian diperpanjang karena ia sadar akan ketergantungannya.
- Holland juga mengambil jeda dari dunia akting untuk fokus pada kehidupan pribadi dan menghindari kejenuhan karier.

Tom Holland, bintang Spider-Man, mengungkapkan bahwa kebiasaan minum alkoholnya sebelum berhenti pada 2022 tidak pernah mencerminkan gaya hidup liar khas Hollywood. Dalam wawancara dengan GQ bersama lawan mainnya di film The Odyssey, Robert Pattinson dan Matt Damon, serta sutradara Christopher Nolan, Holland menggambarkan momen-momen mabuknya justru lebih sering diisi dengan kesepian.
“Saya tidak akan menyebutnya liar, lebih sering terasa sepi,” ujar Holland. “Saya bukan tipe orang yang pergi ke klub malam. Saya bisa duduk di kamar hotel, menghabiskan minibar, lalu bekerja keesokan harinya. Versi liar saya sangat tidak Hollywood. Saya selalu cukup waras, hanya minum terlalu banyak.”
Pengakuan ini muncul setelah Pattinson, yang dikenal dengan gaya hidup liarnya di masa lalu, berkomentar bahwa generasi Holland lebih “sadar” dibanding dirinya. Pattinson mengatakan, “Saya merasa dia menjalani tahun-tahun gilanya dalam waktu yang seharusnya, mungkin delapan tahun, sementara saya memperpanjangnya. Saya seperti ingin tetap berusia 22 sampai 39. Tapi anehnya, generasinya terlihat sangat bijaksana.”
Keputusan Holland untuk berhenti minum tidak terjadi secara instan. Awalnya ia hanya mengikuti tantangan Dry January—sebulan penuh tanpa alkohol. Namun, setelah merasakan betapa bergantungnya ia pada minuman, ia memutuskan untuk memperpanjang masa sadar tersebut tanpa batas waktu yang jelas. Langkah ini menjadi bagian dari transformasi pribadi yang lebih besar.
Dalam wawancara yang sama, Holland juga mengakui bahwa ia sengaja menjauh dari sorotan Hollywood selama beberapa waktu. “Saya butuh istirahat. Saya merasa terlalu banyak bekerja dan perlu melakukan pendewasaan dalam kehidupan pribadi, yang membutuhkan waktu di rumah. Saya juga ingin memastikan bahwa saya selalu mencintai apa yang saya lakukan. Begitu pekerjaan terasa seperti kewajiban, ada yang salah,” katanya.
Fenomena ini menarik untuk dicermati di Indonesia, di mana budaya minum alkohol sering dikaitkan dengan pergaulan sosial dan tekanan pekerjaan. Banyak pekerja kreatif dan selebritas Tanah Air yang juga mulai terbuka tentang pentingnya kesehatan mental dan pengendalian konsumsi alkohol. Kisah Holland bisa menjadi pengingat bahwa ketergantungan tidak selalu tampak dari luar—seseorang bisa tampak berfungsi normal namun berjuang di dalam.
Dengan dua film besar yang akan dirilis tahun ini, Holland kembali ke layar lebar setelah jeda yang ia ambil untuk merenung. Pertanyaannya, akankah tren kesadaran akan kesehatan mental di kalangan artis Hollywood ini mendorong perubahan serupa di industri hiburan Indonesia? Atau justru tekanan untuk tampil sempurna akan terus mengaburkan realitas di balik layar?



