Swiatek Akui Gugup di Hari Ulang Tahun: Tersingkir dari Prancis Terbuka
Baca dalam 60 detik
- Iga Swiatek tersingkir di babak keempat Prancis Terbuka setelah kalah dari Marta Kostyuk, mengakhiri dominasinya di lapangan tanah liat.
- Petenis nomor satu dunia itu mengaku kehilangan kendali akibat ketegangan, berbeda dengan kekalahan sebelumnya yang lebih bisa diterima.
- Kekalahan ini menjadi alarm bagi Swiatek menjelang Wimbledon, di mana ia harus berbenah mental dan teknis dalam waktu singkat.
Iga Swiatek, petenis nomor satu dunia asal Polandia, harus menerima kenyataan pahit di hari ulang tahunnya yang ke-25: tersingkir di babak keempat Prancis Terbuka setelah dikalahkan Marta Kostyuk asal Ukraina dengan skor 7-5, 6-1, Minggu (31/5). Kekalahan ini menjadi yang tercepat bagi Swiatek di Roland Garros sejak debutnya pada 2019, sekaligus memutus dominasinya di lapangan tanah liat yang selama ini menjadi andalan.
Swiatek, yang telah empat kali juara di Paris, mengakui bahwa ketegangan menjadi biang keladi performa buruknya. "Saya kehilangan kendali atas pertandingan, dan tidak ada cara untuk kembali karena saya merasa semakin buruk," ujarnya dalam konferensi pers usai laga. Ia menambahkan bahwa kekalahan ini berbeda dengan saat dikalahkan Elina Svitolina di Roma atau Mirra Andreeva di Stuttgart, yang lebih bisa diterima karena lawan bermain lebih baik.
Sejak menjuarai Prancis Terbuka 2024, Swiatek belum sekalipun meraih gelar di turnamen tanah liat. Catatan ini menjadi sorotan, mengingat ia dikenal sebagai petenis yang mendominasi di permukaan tersebut. Kekalahan dari Kostyuk, unggulan ke-15, menunjukkan bahwa Swiatek rentan terhadap tekanan, terutama saat lawan mampu memanfaatkan momentum. "Saya merasa kalah hari ini karena Marta menggunakan kesempatan dan saya sangat tegang," katanya.
Bagi penggemar tenis di Indonesia, kekalahan Swiatek menjadi pengingat bahwa bahkan petenis terbaik pun bisa goyah. Di tengah maraknya turnamen tenis yang disiarkan di tanah air, performa Swiatek kerap menjadi tontonan favorit. Namun, hasil ini menunjukkan bahwa persaingan di puncak tenis wanita semakin ketat, dengan munculnya pemain-pemain seperti Kostyuk yang mampu mengejutkan.
Swiatek mengaku sadar akan kelemahannya dan bertekad untuk memperbaikinya, meski ia tidak menargetkan perubahan instan. "Mungkin tidak akan memakan waktu seminggu atau sebulan. Mungkin butuh satu musim atau lebih, tetapi saya perlu percaya bahwa saya bisa melewati ini dan tidak mudah goyah," ujarnya. Ia juga mengakui belum memikirkan musim rumput, di mana ia akan mempertahankan gelar Wimbledon mulai 29 Juni.
Kekalahan ini membuka pertanyaan besar: mampukah Swiatek bangkit kembali dan mempertahankan mahkota Wimbledon? Atau justru ini awal dari penurunan performa yang lebih panjang? Dengan waktu persiapan yang singkat, semua mata akan tertuju pada langkah Swiatek selanjutnya.



