Anggaran Pelatnas Terpangkas, Menpora Erick Thohir Targetkan Empat Emas Asian Games 2026
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah mengalokasikan Rp81,04 miliar untuk pelatnas Asian Games 2026, turun drastis dari Rp389,82 miliar pada edisi sebelumnya.
- Target empat medali emas disesuaikan akibat tiga nomor potensial, seperti menembak dan traditional boat race, tidak dipertandingkan.
- Menpora Erick Thohir mengandalkan kolaborasi dengan KONI, KOI, dan tokoh olahraga untuk menutup celah pendanaan.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7665713/original/022959600_1780459655-WhatsApp_Image_2026-06-03_at_10.40.19.jpeg)
Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir menetapkan target empat medali emas bagi kontingen Indonesia pada Asian Games 2026, meskipun anggaran pemusatan latihan nasional (pelatnas) mengalami penurunan signifikan dibandingkan penyelenggaraan sebelumnya.
Dalam rapat kerja bersama Komisi X DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (2/6), Erick mengungkapkan bahwa alokasi anggaran pelatnas untuk Asian Games 2026 hanya sebesar Rp81,04 miliar. Jumlah ini merosot tajam jika dibandingkan dengan anggaran Asian Games 2022 yang mencapai Rp389,82 miliar. Meski demikian, ia menegaskan bahwa kebutuhan keberangkatan kontingen tetap menjadi prioritas utama pemerintah. โAlokasi anggaran untuk keberangkatan kontingen tetap terjaga dan diprioritaskan,โ ujarnya.
Penurunan target emas dari tujuh menjadi empat, menurut Erick, merupakan konsekuensi dari tiga nomor pertandingan potensial yang tidak lagi dipertandingkan pada Asian Games 2026. Ketiga nomor tersebut adalah 10m running target dan 10m running target mixed dari cabang menembak, serta traditional boat race. โPada Asian Games 2022, Indonesia meraih tujuh emas. Target kini menurun karena tiga nomor pertandingan tidak lagi dipertandingkan,โ jelas Erick. Ia menambahkan bahwa dengan kondisi saat ini, target realistis yang bisa dicapai adalah empat medali emas.
Untuk mengoptimalkan persiapan, Menpora telah bertemu dengan sejumlah cabang olahraga (cabor), Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI), serta Komite Olimpiade Indonesia (KOI) guna menyusun strategi terbaik. Erick berharap ada dukungan tambahan dari para pemangku kebijakan, khususnya dalam hal pendanaan, karena perhatian lebih sangat dibutuhkan untuk menunjang kebutuhan atlet dan pelatih yang telah berkorban demi mengharumkan nama bangsa.
Erick juga mengapresiasi keterlibatan tokoh-tokoh penting dalam pembinaan olahraga, seperti Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani yang juga menjabat Ketua Umum Persatuan Angkat Besi Seluruh Indonesia (PABSI), serta Yenny Wahid yang memimpin Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI). โBanyak figur yang sudah bekerja keras. Mudah-mudahan ke depan semakin banyak pemangku kebijakan yang terus memberikan perhatian lebih kepada atlet dan pelatih kita,โ pungkasnya.
Bagi pembaca Indonesia, tantangan ini mengingatkan pada pentingnya efisiensi dan inovasi dalam pembinaan atlet di tengah keterbatasan anggaran. Dengan persaingan yang semakin ketat di tingkat Asia, akankah kolaborasi lintas sektor mampu menutup celah pendanaan dan membawa pulang lebih banyak medali? Jawabannya akan terlihat pada pesta olahraga terbesar se-Asia itu.


