Prabowo Bawa Pulang Rp61,25 Triliun dari Prancis: Empat Kesepakatan Strategis di Sektor Energi, Perdagangan, dan Pertahanan
Baca dalam 60 detik
- Presiden Prabowo Subianto kembali dari Prancis dengan membawa empat kesepakatan komersial senilai total USD 3,5 miliar atau sekitar Rp61,25 triliun.
- Kesepakatan tersebut difokuskan pada ketahanan energi, perdagangan, dan pertahanan, serta ditandai dengan peluncuran France–Indonesia High Level Business Council.
- Forum bisnis tingkat tinggi ini mempertemukan 30 pemimpin perusahaan dengan kapitalisasi pasar USD 1,3 triliun, menandakan meningkatnya kepercayaan investor Prancis terhadap Indonesia.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7332618/original/047745000_1780117202-prabos-halim.jpg)
Presiden Prabowo Subianto mendarat di Pangkalan Udara TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta, Sabtu (30/5) pukul 09.50 WIB, menuntaskan kunjungan kenegaraan ke Prancis yang menghasilkan komitmen investasi dan kerja sama senilai Rp61,25 triliun. Angka itu setara USD 3,5 miliar dengan asumsi kurs Rp17.500 per dolar AS, mencakup empat kesepakatan komersial baru di sektor ketahanan energi, perdagangan, dan pertahanan.
Kedatangan Prabowo disambut oleh Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, Kapolri Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo, serta Wakil Panglima TNI Letjen TNI Tandyo Budi Revita. Kehadiran para pejabat tinggi itu mengindikasikan bobot strategis hasil kunjungan, yang tidak hanya bersifat seremonial tetapi juga berdampak langsung pada agenda ekonomi dan keamanan nasional.
Salah satu pencapaian utama adalah peluncuran France–Indonesia High Level Business Council pada 28 Mei 2026, disaksikan langsung oleh Prabowo dan Presiden Prancis Emmanuel Macron. Forum ini mempertemukan 30 pemimpin perusahaan dan pelaku industri utama dari kedua negara, yang secara kolektif memiliki kapitalisasi pasar mencapai USD 1,3 triliun. Dewan bisnis tersebut dipimpin bersama oleh Antoine de Saint-Affrique, CEO Danone yang juga Chair France–Indonesia Business Council MEDEF International, serta Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Bakrie.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani menilai pembentukan dewan bisnis ini sebagai tonggak penting yang mempererat hubungan ekonomi bilateral sekaligus membuka peluang investasi dan perdagangan yang saling menguntungkan. "Forum ini tidak hanya menjadi wadah dialog antara pelaku usaha, tetapi juga menjadi mesin penggerak untuk mendorong investasi, perdagangan, dan kerja sama strategis yang memberikan manfaat nyata bagi kedua negara," ujar Rosan dalam keterangan tertulis.
Bagi Indonesia, kesepakatan ini memiliki arti strategis di tengah upaya pemerintah meningkatkan investasi asing langsung (FDI) dan memperkuat hilirisasi sumber daya alam. Sektor ketahanan energi menjadi prioritas mengingat ketergantungan Indonesia pada impor energi fosil, sementara kerja sama pertahanan dapat mempercepat modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista). Di sisi lain, Prancis melihat Indonesia sebagai mitra jangka panjang dengan iklim investasi yang semakin kompetitif dan pasar domestik yang besar.
Rosan menambahkan bahwa kepercayaan dunia usaha Prancis terhadap Indonesia terus meningkat. "Kesepakatan yang tercapai menunjukkan bahwa Indonesia dipandang sebagai mitra strategis yang memiliki prospek pertumbuhan jangka panjang dan iklim investasi yang semakin kompetitif," katanya. Pernyataan itu diperkuat oleh partisipasi perusahaan-perusahaan besar Prancis, termasuk Danone, yang menunjukkan komitmen nyata terhadap pasar Indonesia.
Ke depan, implementasi empat kesepakatan tersebut akan menjadi ujian bagi efektivitas France–Indonesia High Level Business Council. Pertanyaan yang muncul adalah seberapa cepat realisasi investasi dapat berjalan, terutama di sektor pertahanan yang kerap terkendala regulasi dan anggaran. Jika berhasil, forum ini bisa menjadi model bagi kerja sama bilateral Indonesia dengan negara-negara Eropa lainnya.



