Curaçao, Negara Terkecil di Piala Dunia 2026, Siap Kejutkan Jerman
Baca dalam 60 detik
- Curaçao akan menjadi negara dengan populasi terkecil yang pernah tampil di Piala Dunia, menggeser rekor Islandia.
- Pelatih Dick Advocaat, 78 tahun, akan menjadi manajer tertua dalam sejarah turnamen saat memimpin debut Curaçao.
- Semangat juang tinggi dan teknik ala Belanda diyakini bisa menjadi pembeda meski minim pengalaman di level tertinggi.
Curaçao, negara kepulauan Karibia dengan populasi hanya 150.000 jiwa, akan mencatatkan sejarah sebagai peserta termungil dalam gelaran Piala Dunia FIFA 2026. Tim berjuluk Blue Wave itu tidak hanya berniat menjadi pelengkap; mereka datang dengan ambisi mengejutkan raksasa seperti Jerman pada laga perdana 14 Juni di Houston.
Kualifikasi yang diraih November lalu melalui hasil imbang melawan Jamaika disambut euforia luar biasa di Willemstad. “Ini sudah seperti memenangi Piala Dunia bagi kami,” ujar Jael Monte, seorang pendukung setia, kepada FIFA. Menurutnya, semangat sepak bola kini merasuk ke seluruh lapisan masyarakat, bahkan mereka yang sebelumnya tidak peduli.
Pelatih Dick Advocaat, yang kembali menukangi Curaçao, akan menjadi manajer tertua dalam sejarah Piala Dunia pada usia 78 tahun. Ia memimpin skuad yang seluruhnya lahir di Belanda, kecuali Tahith Chong yang lahir di Willemstad. Lebih dari separuh pemain pernah membela tim muda Belanda sebelum memilih mewakili tanah leluhur mereka.
Bek Livano Comenencia, yang kini membela FC Zurich, menjadi salah satu motor permainan. Ia mengakui kurangnya pengalaman menjadi kelemahan utama, namun menekankan bahwa mentalitas pantang takut dan fondasi teknik ala Belanda bisa menjadi senjata. “Kami akan mengejutkan banyak orang,” tegasnya. Comenencia juga menyebut target empat poin — satu kemenangan dan satu hasil imbang — sudah cukup untuk melangkah ke babak selanjutnya.
Bagi Indonesia, kisah Curaçao menjadi cermin bagaimana negara kecil bisa bersaing di panggung global dengan memaksimalkan diaspora dan pembinaan usia muda. Keberhasilan mereka memanfaatkan pemain keturunan yang dibesarkan di Belanda menunjukkan pentingnya jejaring dan sistem akademi yang kuat. Jika Indonesia ingin menembus Piala Dunia, strategi serupa — memanggil pemain diaspora dan membangun ekosistem kompetitif — patut dipertimbangkan.
“Kami tidak datang hanya untuk bermain. Kami datang untuk menang,” ujar Comenencia, menegaskan ambisi yang melampaui sekadar partisipasi.
Pertanyaan besarnya: mampukah Curaçao mengulang kejutan seperti Kosta Rika 2014 atau Islandia 2018? Atau akankah mereka menjadi catatan kaki manis dalam sejarah Piala Dunia? Jawabannya mulai terlihat saat mereka berhadapan dengan Jerman, negara dengan populasi 80 juta jiwa dan empat gelar juara dunia.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7556608/original/046577300_1780333769-1000119708.jpg)

