Montella Tolak Roma Demi Turki: Mimpi yang Ditunda demi Piala Dunia
Baca dalam 60 detik
- Pelatih asal Italia, Vincenzo Montella, memilih bertahan bersama Timnas Turki meski mendapat tawaran dari AS Roma, klub yang membesarkan namanya.
- Keputusan itu diambil setelah Presiden Federasi Sepak Bola Turki, Ibrahim Haciosmanoglu, meyakinkannya untuk tetap fokus pada misi lolos ke Piala Dunia 2026.
- Montella sebelumnya selalu menyertakan klausul khusus dalam kontraknya yang memungkinkan ia hengkang jika Roma datang, namun kali itu tidak berlaku.

Vincenzo Montella, pelatih Timnas Turki yang sukses membawa timnya lolos ke Piala Dunia 2026, ternyata sempat dihadapkan pada pilihan sulit: menolak tawaran melatih AS Roma, klub yang pernah membesarkan namanya sebagai pemain. Pengakuan ini disampaikan langsung oleh Presiden Federasi Sepak Bola Turki, Ibrahim Haciosmanoglu, dalam wawancara dengan media lokal Fanatik.
Montella, yang genap berusia 52 tahun pada bulan depan, akan merayakan ulang tahunnya di Amerika Serikat saat Turki berlaga di Piala Dunia. Namun, perjalanan itu nyaris tak terjadi. Haciosmanoglu mengungkapkan bahwa tawaran dari Roma datang tepat sebelum laga play-off Nations League melawan Hongaria pada Maret 2025. “Montella mendatangi saya dan mengatakan ingin mempertimbangkannya, terutama jika kami akan melepasnya bila hasil play-off buruk. Sikapnya sangat sopan,” ujar Haciosmanoglu.
Menariknya, Montella selama ini dikenal selalu menyertakan klausul dalam kontraknya yang mengizinkannya pergi jika Roma memberikan tawaran. Namun, dalam kontrak terbarunya bersama Timnas Turki, klausul tersebut tidak ada. “Saya katakan padanya, selama saya di sini, kami akan terus bersamanya. Dia pun mengorbankan mimpi yang selalu ia miliki, yaitu melatih Roma,” tambah Haciosmanoglu.
Keputusan Montella tentu tidak mudah. Sebagai mantan pemain ikonik Roma periode 1999–2007, ia sempat menukangi tim senior Giallorossi pada 2011 selama 16 pertandingan. Namun, ia memilih untuk tetap setia pada proyek jangka panjang bersama Turki. “Ini menunjukkan komitmen Montella terhadap tim nasional,” kata pengamat sepak bola Italia, Luca Bianchi. “Dia melihat potensi besar di Turki, dan hasilnya sudah terbukti dengan lolosnya mereka ke Piala Dunia.”
Bagi pembaca di Indonesia, kisah ini mengingatkan pada dilema yang kerap dihadapi pelatih lokal ketika tawaran dari klub besar datang di tengah tugas negara. Di kancah sepak bola Asia Tenggara, isu loyalitas pelatih terhadap tim nasional versus klub juga sering menjadi perdebatan. Montella memilih jalan yang jarang diambil: mengesampingkan ambisi pribadi demi kebanggaan membawa negara ke panggung dunia.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Montella akan kembali ke Roma suatu hari nanti, ataukah ia justru akan membangun warisan baru bersama Turki? Dengan Piala Dunia 2026 yang tinggal menghitung bulan, fokusnya kini sepenuhnya pada persiapan tim. Satu hal yang pasti: keputusan Montella telah mengukuhkan namanya sebagai pelatih yang tak hanya mengutamakan gengsi, tetapi juga visi jangka panjang.



