Panggung Pahit Gabriel: Penalti Pertama yang Berujung Petaka di Final Liga Champions
Baca dalam 60 detik
- Bek Arsenal, Gabriel, gagal mengeksekusi penalti penentu di final Liga Champions, membuat PSG mempertahankan gelar.
- Manajer Arteta mengungkapkan Gabriel telah berlatih untuk momen tersebut, namun tekanan final menghancurkan mentalitas sang pemain.
- Kegagalan ini tidak menghapus kontribusi besarnya sepanjang musim, termasuk gelar Premier League yang diraih Arsenal.

Momen pahit menghampiri Gabriel saat tendangan penaltinya melambung tinggi di atas mistar gawang PSG, memastikan Arsenal harus mengubur mimpi juara Liga Champions di Budapest, Sabtu malam. Bek asal Brasil itu, yang baru pertama kali menjadi algojo penalti untuk The Gunners, justru menjadi antitesis dari perannya sebagai pahlawan sepanjang musim.
Arsenal sebenarnya memulai laga dengan gemilang. Kai Havertz membobol gawang Matvey Safonov pada menit keenam, membuat pendukung The Gunners bermimpi mengulang kejayaan 2006. Namun, dominasi penguasaan bola yang diraih PSG tidak mampu dikonversi menjadi gol hingga Ousmane Dembele menyamakan kedudukan lewat titik putih. Pertandingan pun berlanjut ke babak adu penalti setelah skor 1-1 bertahan hingga perpanjangan waktu.
Di babak tos-tosan, Eberechi Eze gagal setelah tendangannya melebar, namun kiper David Raya mampu menahan eksekusi Nuno Mendes. Sayang, setelah empat penendang pertama sukses, giliran Gabriel yang harus maju. Bola hasil tendangannya melambung jauh di atas gawang, disambut sorak sorai suporter PSG yang memadati Puskas Arena. Pelatih Mikel Arteta mengungkapkan bahwa Gabriel telah mempersiapkan diri dan berlatih untuk momen tersebut. “Dia ingin mengambilnya,” ujar Arteta. “Biasanya penendang penalti adalah Bukayo, Martin, dan Kai. Tapi kami tahu jika laga berlanjut ke adu penalti, pemain lain harus maju.”
Mantan bek Arsenal, Matt Upson, menyebut momen ini sebagai “salah satu momen ala John Terry,” merujuk pada kegagalan kapten Chelsea di final 2008. Namun, berbeda dengan Terry yang terpeleset, Gabriel gagal karena tekanan mental yang luar biasa. “Dia menunjukkan keberanian untuk maju dan bertanggung jawab,” kata Upson. “Itu yang bisa diminta dari pemain mana pun. Sangat menyedihkan, tapi saya yakin dia akan bangkit dan menggunakan ini sebagai motivasi.”
Gelandang Arsenal, Declan Rice, membela rekannya. “Gagal penalti di final Liga Champions jelas tidak menyenangkan,” ujarnya. “Tapi kami mencintai mereka dan bersama mereka. Ini terjadi dalam sepak bola. Tanpa Gabriel dan Eze, kami tidak akan memenangkan Premier League musim ini.”
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kisah Gabriel mengingatkan pada nasib pahit yang kerap menimpa pemain bertahan yang harus menjadi pahlawan di saat genting. Di Liga 1, beberapa bek juga kerap ditunjuk sebagai eksekutor penalti dan kadang gagal di momen krusial. Namun, kegagalan di panggung sebesar final Liga Champions tentu memiliki bobot psikologis yang jauh lebih berat.
Gabriel, yang dibeli Arteta pada Desember 2019, telah menjadi fondasi pertahanan Arsenal. Ia memulai 48 dari 63 pertandingan di semua kompetisi musim ini, menyumbang sembilan gol dan assist—lebih banyak dari Martin Odegaard maupun Gabriel Jesus. Termasuk gol kemenangan dramatis di menit ke-96 melawan Newcastle United pada September lalu. “Tanpa dia, Arsenal tidak akan memenangkan Premier League,” tegas mantan bek Manchester City, Nedum Onuoha. “Dia sangat berharga dan layak masuk dalam perbincangan Pemain Terbaik PFA.”
Kegagalan ini tidak serta-merta menghapus catatan gemilang Gabriel. Namun, pertanyaan besar kini menghantui: mampukah ia bangkit dan kembali menjadi pilar Arsenal musim depan? Atau, kenangan pahit di Budapest akan terus membayangi setiap langkahnya? Hanya waktu yang bisa menjawab, namun satu hal pasti—sepak bola memang kejam, tapi juga memberi kesempatan kedua bagi mereka yang berani.



