Luis Enrique Sapa Guru Bahasa Roma Usai PSG Juara Liga Champions: Kenangan di Balik Trofi Ketiga
Baca dalam 60 detik
- PSG menaklukkan Arsenal lewat adu penalti di final Liga Champions, mengantarkan Luis Enrique ke jajaran elit pelatih tiga kali juara.
- Di tengah euforia, Enrique secara khusus berterima kasih kepada Claudio Bisceglia, guru bahasa dan penerjemah yang membantunya sejak masa di Roma.
- Bisceglia juga berperan sebagai jembatan komunikasi antara pelatih asing dan pemilik klub, termasuk saat membantu Gasperini dan Mourinho.

Luis Enrique resmi bergabung dengan klub elit pelatih yang tiga kali menjuarai Liga Champions setelah Paris Saint-Germain mengalahkan Arsenal melalui adu penalti di final, Sabtu (31/5) malam. Namun, di tengah pesta kemenangan, pelatih asal Spanyol itu menyempatkan diri menyampaikan penghormatan kepada seorang guru bahasa dan penerjemah asal Roma, Claudio Bisceglia, yang disebutnya sebagai sahabat sejati.
Pertandingan di Budapest itu berlangsung sengit. Arsenal unggul lebih dulu lewat gol Kai Havertz di awal babak pertama, sebelum Ousmane Dembele menyamakan kedudukan dari titik putih di babak kedua. Skor 1-1 bertahan hingga perpanjangan waktu, memaksa adu penalti untuk pertama kalinya dalam satu dekade terakhir di partai puncak. Dua eksekutor Arsenal, Eberechi Eze dan Gabriel Magalhães, gagal menunaikan tugasnya, memastikan PSG mempertahankan gelar untuk musim kedua beruntun.
Kemenangan ini menempatkan Luis Enrique sejajar dengan Pep Guardiola, Zinedine Zidane, dan Bob Paisley sebagai pelatih dengan tiga trofi Si Kuping Besar. Carlo Ancelotti masih memuncaki daftar dengan lima gelar, namun pencapaian Enrique tetap istimewa karena diraih bersama dua klub berbeda: Barcelona (2015) dan PSG (2024, 2025).
Dalam wawancara dengan Sky Sports seusai laga, Enrique mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada Bisceglia, yang pernah menjadi guru bahasa dan rekan kerja di Roma. "Saya harus berterima kasih kepada sahabat saya Claudio Bisceglia, seorang pemain dan guru Roma, sahabat sejati," ujar Enrique. Ini bukan kali pertama ia menyebut nama Bisceglia; pada 2015, saat Barcelona juara, Enrique juga mendedikasikan kemenangan untuk pria yang sama.
Bisceglia bukan sekadar guru bahasa. Ia dikenal sebagai figur kunci di balik layar AS Roma, membantu komunikasi antara pelatih asing dan manajemen klub yang berbahasa Inggris. Saat Gian Piero Gasperini ditunjuk sebagai pelatih kepala, Bisceglia disebut berperan vital dalam negosiasi dengan pemilik klub, keluarga Friedkin. Jose Mourinho, yang pernah menukangi Roma, bahkan menjuluki Bisceglia sebagai "fenomena" karena kemampuannya menjembatani perbedaan bahasa dan budaya.
Kisah ini mengingatkan bahwa kesuksesan di level tertinggi sepak bola sering kali ditopang oleh figur-figur di luar lapangan. Di Indonesia, peran penerjemah dan asisten multibahasa juga semakin krusial seiring meningkatnya jumlah pelatih asing di Liga 1. Klub-klub seperti Persija Jakarta dan Persib Bandung telah merekrut staf khusus untuk memfasilitasi komunikasi antara pelatih Eropa dan pemain lokal.
Dengan tiga gelar Liga Champions di tangannya, Luis Enrique kini memasuki fase baru kariernya. Pertanyaan besarnya: mampukah ia menyamai rekor Ancelotti, atau justru akan meninggalkan PSG untuk tantangan baru? Satu hal yang pasti, namanya sudah terukir dalam sejarah, dan ia tak lupa menyebut sosok di balik layar yang membantunya sejak awal.



