Bangunan Global Justru Makin Boros Energi, UNEP Peringatkan Krisis Iklim Makin Dekat
Baca dalam 60 detik
- Emisi sektor bangunan naik 6,5% sejak 2015, padahal target Perjanjian Paris menuntut penurunan 30%.
- Luas lantai bangunan global mencapai 273 miliar meter persegi, tumbuh 1,7% per tahun, didominasi perumahan.
- Indonesia berpotensi menjadi episentrum krisis: konsumsi energi bangunan diproyeksi naik 40% pada 2030, didorong ledakan AC rumah tangga.

Sektor bangunan dan konstruksi, yang selama ini dipandang sebagai salah satu penyumbang emisi terbesar, justru menunjukkan tren yang semakin mengkhawatirkan. Alih-alih menurun, emisi dari sektor ini malah meningkat 6,5 persen sejak 2015, jauh dari target penurunan 30 persen yang diamanatkan Perjanjian Paris. Temuan ini tertuang dalam laporan Global Status Report for Buildings and Construction 2025–2026 yang diluncurkan oleh UNEP dan Global Alliance for Building and Construction, menjelang COP31 di Turki pada November 2026.
Laporan berjudul Building Fast, Falling Short as Climate Risks Rise and Cities Grow itu mengungkapkan bahwa luas lantai bangunan global kini mencapai 273 miliar meter persegi—setara dengan empat kali luas Kota Berlin atau dua puluh kali Delhi. Pertumbuhan ini, yang 77 persennya berupa hunian, mendorong konsumsi energi sektor bangunan terus meningkat. Padahal, sektor ini menyumbang 37 persen emisi CO₂ terkait energi global, mengonsumsi sepertiga energi dunia, dan bertanggung jawab atas hampir 50 persen ekstraksi material global.
Secara regional, hanya Eropa yang berhasil menekan konsumsi energi bangunan berkat kebijakan ketat yang telah berjalan bertahun-tahun. Sementara itu, Asia Pasifik—termasuk Indonesia—menjadi salah satu pendorong utama kenaikan konsumsi energi global. Di Indonesia, sektor bangunan menyumbang sekitar 30 persen konsumsi energi nasional dan diperkirakan naik menjadi 40 persen pada 2030, menurut kajian International Finance Corporation.
Salah satu faktor kritis adalah ledakan penggunaan pendingin ruangan (AC). Kajian CLASP menunjukkan hanya 6 persen rumah tangga Indonesia yang memiliki AC saat ini, namun pada 2050 diperkirakan 85 persen rumah tangga akan memilikinya. Masalahnya, sebagian besar AC yang beredar di pasar Indonesia masih berdaya guna rendah. Tanpa regulasi efisiensi yang ketat, ledakan ini berpotensi meningkatkan emisi dan tagihan listrik masyarakat secara signifikan. Uji lapangan di Jakarta, Medan, dan Bali membuktikan AC inverter mampu menghemat listrik hingga 28 persen, namun harganya masih lebih mahal.
“Karena energi paling bersih adalah energi yang tidak perlu kita gunakan,” ujar Hanane Hafraoui, Programme Officer Global Alliance for Buildings and Construction, menekankan pentingnya desain pasif dan retrofit.
Indonesia sebenarnya memiliki banyak inspirasi dari arsitektur vernakular, seperti rumah adat Kanekes atau Kampung Naga, yang memanfaatkan material alam dan desain responsif iklim. Namun, arsitek Yu Sing dari Anakoma Studio mengingatkan bahwa desain minim energi saja tidak cukup di perkotaan. Perlu perencanaan kota yang mendukung, seperti koridor hijau untuk menurunkan suhu, serta kebijakan yang mendorong bangunan rendah emisi sejak tahap desain.
Pertanyaan soal pendanaan juga mengemuka. Martin Krause, Direktur Divisi Perubahan Iklim UNEP, menegaskan bahwa pendanaan publik saja tidak akan mencukupi. Kolaborasi dengan swasta, arsitek, dan pengembang sangat diperlukan untuk mengintegrasikan teknologi efisiensi energi sejak awal. “Jika dilakukan sejak awal, biayanya jauh lebih murah dan investasi akan terbayar melalui penghematan tagihan listrik,” katanya.
Laporan UNEP menggarisbawahi bahwa sertifikasi bangunan hijau memang meningkat tiga kali lipat, namun investasi efisiensi energi baru mencapai dua pertiga dari kebutuhan ideal. Dengan target kumulatif US$5,9 triliun hingga 2030, masih ada celah besar yang harus ditutup. Pertanyaan kuncinya: apakah Indonesia—dengan pertumbuhan bangunan yang pesat dan ledakan AC—akan mampu membalikkan tren sebelum terlambat?
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7612616/original/026915700_1780398169-1000596458__1_.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3938374/original/017867600_1645165607-20220218-Waspada_Cuaca_Ekstrem_di_Jakarta-5.jpg)