Kebakaran di Kemayoran: 250 Bangunan Ludes, Warga Kembali Kehilangan Tempat Tinggal
Baca dalam 60 detik
- Kebakaran melanda permukiman padat Kebon Kosong, Kemayoran, pada Senin malam, menghanguskan sekitar 250 bangunan semi permanen dan membuat 500 jiwa kehilangan tempat tinggal.
- Dugaan sementara penyebab kebakaran adalah korsleting listrik, dan warga setempat mengaku sudah sering mengalami musibah serupa karena kondisi kawasan yang rawan.
- Pemerintah dan petugas pemadam kebakaran masih melakukan penyelidikan, sementara warga mulai merintis kehidupan kembali dari puing-puing yang tersisa.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7612616/original/026915700_1780398169-1000596458__1_.jpg)
Api melalap habis ratusan bangunan di permukiman padat Kebon Kosong, Kemayoran, Jakarta Pusat, Senin (1/6/2026) malam, memaksa 300 kepala keluarga atau sekitar 500 jiwa kehilangan tempat tinggal dalam hitungan menit. Kobaran yang muncul saat warga tengah menggelar tahlilan itu menyisakan puing-puing dan kepilihan yang tak asing bagi penghuni kawasan tersebut.
Edo (59), salah seorang warga, tak sempat menyelamatkan harta benda. Prioritasnya hanya satu: memastikan istri dan anaknya keluar dari lingkaran api. "Saya naik-naik sama warga, tapi udah keburu gede apinya," ujarnya saat ditemui di lokasi, Selasa (2/6). Dalam sekejap, rumah yang dibangunnya puluhan tahun lenyap.
Kasi Humas Polres Metro Jakarta Pusat Iptu Erlyn Sumantri menyebutkan, dugaan sementara penyebab kebakaran adalah korsleting arus listrik. Berdasarkan keterangan saksi berinisial Dโpengurus RW 04โapi pertama kali terlihat dari dua rumah di belakang kediamannya, salah satunya milik warga berinisial DH. "Sekitar pukul 21.00 WIB tiba-tiba api muncul dari dua rumah di belakang saksi, lalu langsung membesar," kata Erlyn mengutip saksi.
Warga sempat berupaya memadamkan api secara mandiri menggunakan tiga alat pemadam api ringan (APAR) milik Sekretariat RW 04, namun api dengan cepat merembet ke bangunan lain yang berdiri rapat tanpa jarak aman. Dua unit mobil pemadam kebakaran tiba di lokasi, tetapi kobaran yang sudah membesar membuat upaya pemadaman tak berjalan mulus. Personel gabungan dari kepolisian dan pemadam kebakaran masih melakukan penyelidikan untuk memastikan penyebab pasti.
Bagi warga Kebon Kosong, kebakaran bukanlah peristiwa langka. Edo mengaku sudah berkali-kali menyaksikan api melumat permukiman mereka. "Daerah sini mah sering kebakaran. Siangnya jam 11, satu rumah. Terus pernah juga tahun lalu, di Gembreng juga, terus Bendungan Jago, sama tahun 88," ujarnya. Peristiwa terbesar yang masih membekas dalam ingatannya adalah kebakaran tahun 1988, yang menurutnya jauh lebih dahsyat ketimbang kali ini.
Kondisi permukiman padat dengan bangunan semi permanen yang saling berdekatan menjadi faktor utama penyebaran api begitu cepat. Kawasan seperti Kebon Kosong, yang menjadi tempat bergantung bagi ribuan warga untuk mencari nafkah, menyimpan risiko tinggi terhadap bencana kebakaran. Meski demikian, banyak keluarga tetap bertahan karena keterbatasan ekonomi dan akses terhadap hunian yang lebih layak.
Kini, di atas puing-puing yang masih menyisakan asap, Edo dan ratusan warga lainnya mulai merintis kehidupan dari nol. Bantuan logistik mulai berdatangan, namun kebutuhan jangka panjang seperti tempat tinggal sementara dan biaya pembangunan kembali masih menjadi tanda tanya. "Ya mau gimana, namanya juga musibah. Tapi Alhamdulillah di sini makan dijamin, air juga sering datang bantuan," katanya pasrah.
Pertanyaan yang kini mengemuka: akankah peristiwa ini menjadi titik balik bagi pemerintah untuk menata ulang kawasan padat penduduk rawan kebakaran, atau api akan terus menjadi cerita berulang yang meninggalkan kehilangan yang sama?

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6493867/original/025420800_1779351314-unnamed__6_.jpg)

