Raheem Sterling Ditangkap karena Dugaan Mengemudi di Bawah Pengaruh Narkoba
Baca dalam 60 detik
- Mantan bintang timnas Inggris Raheem Sterling ditangkap polisi Hampshire setelah Lamborghini-nya menabrak pembatas jalan tol M3.
- Ia diduga mengemudi dalam pengaruh narkoba, membawa obat golongan C, dan menolak tes urine; kasus ini menambah daftar panjang masalah di luar lapangan.
- Karier Sterling merosot drastis sejak meninggalkan Manchester City, dengan hanya 59 penampilan liga dalam empat tahun di Chelsea dan Arsenal.

Raheem Sterling, mantan gelandang serang timnas Inggris yang kini berusia 31 tahun, harus berurusan dengan aparat hukum setelah mobil mewahnya menabrak pembatas jalan tol M3 di Hampshire, Kamis pagi waktu setempat. Polisi setempat langsung menangkapnya dengan tuduhan mengemudi dalam pengaruh narkoba—sebuah insiden yang mencoreng nama pesepakbola yang pernah menjadi andalan The Three Lions.
Kecelakaan tunggal yang melibatkan Lamborghini milik Sterling terjadi sekitar pukul 09.00 waktu Inggris di jalur selatan M3 dekat Minley Interchange. Tidak ada kendaraan lain yang terlibat dan tidak ada korban luka. Namun, polisi yang tiba di lokasi mencurigai Sterling dalam keadaan tidak sadar penuh. Ia kemudian ditahan dan setelah diperiksa, dikenakan empat tuduhan: mengemudi dalam pengaruh obat-obatan, mengemudi berbahaya, kepemilikan narkoba golongan C, dan menolak memberikan sampel urine atau darah. Sterling dibebaskan dengan jaminan sambil penyelidikan berlanjut.
Sumber dekat Sterling membenarkan penangkapan tersebut, namun menegaskan bahwa belum ada bukti adanya narkoba dalam sistem tubuhnya. Sumber itu juga mengungkapkan bahwa Sterling telah melalui masa-masa yang sangat berat dalam dua tahun terakhir, merasa tidak dihargai dan dilupakan. Pernyataan ini mencerminkan tekanan psikologis yang mungkin memengaruhi keputusan dan perilakunya di luar lapangan.
Penangkapan ini menjadi babak baru dalam kemerosotan karier Sterling. Sejak meninggalkan Manchester City pada 2022, ia tak pernah lagi menemukan performa terbaiknya. Di Chelsea, ia hanya tampil 59 kali di liga dalam empat musim—termasuk masa pinjaman di Arsenal—jauh dari standar yang pernah ia tunjukkan saat menjadi pilar City. Kepindahannya ke Feyenoord pada awal tahun ini pun tak membawa perubahan; ia hanya bermain delapan kali di Eredivisie sebelum musim berakhir.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kasus Sterling menjadi pengingat bahwa tekanan di puncak karier bisa berdampak serius pada kehidupan pribadi atlet. Di tengah sorotan media dan tuntutan performa, banyak pemain top yang rentan mengalami masalah mental dan hukum. Kasus ini juga menyoroti pentingnya dukungan psikologis bagi atlet, terutama saat transisi klub atau penurunan performa.
Ke depan, Sterling menghadapi proses hukum yang bisa berujung pada denda, larangan mengemudi, atau bahkan hukuman penjara jika terbukti bersalah. Di luar aspek hukum, reputasinya sebagai mantan bintang timnas Inggris dan ikon Premier League juga terancam. Pertanyaan besarnya: apakah ia masih bisa bangkit kembali, ataukah ini titik akhir dari karier gemilang yang pernah ia miliki?



