PSG Kampiun Liga Champions Dua Musim Beruntun, Arsenal Takluk Lewat Adu Penalti
Baca dalam 60 detik
- Paris Saint-Germain mengalahkan Arsenal melalui adu penalti 4-3 setelah bermain imbang 1-1 hingga 120 menit di final Liga Champions.
- Kemenangan ini mengantarkan PSG lolos ke FIFA Intercontinental Cup 2026, turnamen antar benua yang akan digelar tahun depan.
- Arsenal unggul cepat lewat Kai Havertz, namun PSG menyamakan kedudukan melalui penalti Ousmane Dembele setelah pelanggaran terhadap Khvicha Kvaratskhelia.
Paris Saint-Germain kembali menegaskan dominasinya di panggung sepak bola Eropa. Klub raksasa Prancis itu sukses mempertahankan gelar juara UEFA Champions League setelah menundukkan Arsenal dalam drama adu penalti di Budapest, Hongaria, Kamis dini hari WIB. Kemenangan ini sekaligus memastikan tiket PSG menuju FIFA Intercontinental Cup 2026, turnamen yang mempertemukan juara dari berbagai konfederasi.
Laga berjalan sengit sejak menit awal. Arsenal, yang tampil sebagai underdog, justru mencuri keunggulan lebih dulu. Sebuah bola muntah jatuh tepat di kaki Kai Havertz, yang tanpa ampun melesakkan tembakan deras ke sudut atas gawang PSG. Gol cepat itu sempat membuat PSG terkejut, namun perlahan mereka mulai mengendalikan permainan dengan penguasaan bola khas Luis Enrique.
Arsenal bertahan dengan disiplin tinggi. Meski terus ditekan, lini belakang The Gunners mampu bertahan hingga turun minum tanpa kebobolan tambahan. Namun, ketangguhan itu runtuh di babak kedua. Wasit menunjuk titik putih setelah bek Arsenal, Cristhian Mosquera, menjatuhkan Khvicha Kvaratskhelia di kotak terlarang. Ousmane Dembele, yang dipercaya sebagai algojo, sukses mengecoh kiper dan menyamakan kedudukan.
Skor 1-1 bertahan hingga 90 menit. Babak tambahan waktu juga tak mampu memisahkan kedua tim, meski PSG nyaris mencetak gol kedua lewat tembakan Kvaratskhelia yang membentur tiang dan tendangan Vitinha yang melambung tipis di atas mistar. Pertandingan akhirnya harus ditentukan melalui adu penalti, untuk pertama kalinya sejak 2016.
Dalam adu penalti, PSG tampil dingin. Keempat eksekutor mereka sukses menjalankan tugas, sementara dua penendang Arsenal gagal memanfaatkan kesempatan. Kemenangan ini memastikan PSG menjadi juara Eropa dua musim beruntun, sebuah pencapaian yang terakhir kali diraih oleh Real Madrid pada 2017 dan 2018.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, keberhasilan PSG ini menjadi pengingat bahwa klub-klub Eropa kini semakin gencar merekrut pemain dari Asia Tenggara. Meski belum ada wakil Indonesia di skuad utama PSG, tren ini membuka peluang bagi talenta Tanah Air untuk menembus level tertinggi. Selain itu, lolosnya PSG ke Intercontinental Cup 2026 bisa menjadi ajang bagi publik Indonesia untuk menyaksikan langsung aksi bintang-bintang dunia jika turnamen digelar di Asia.
Dengan gelar ini, Luis Enrique membungkam kritik yang sempat dialamatkan padanya di awal musim. Strategi rotasi dan kepercayaan pada pemain muda seperti Kvaratskhelia terbukti membuahkan hasil. Arsenal, di sisi lain, harus menelan pil pahit setelah tampil heroik sepanjang turnamen. Namun, perjalanan mereka ke final patut diacungi jempol dan menjadi modal berharga untuk musim depan.
Pertanyaan kini mengemuka: mampukah PSG mempertahankan tahta Liga Champions untuk ketiga kalinya? Atau akankah muncul kekuatan baru yang mampu menggoyang dominasi mereka? Satu hal yang pasti, sepak bola Eropa kembali menyajikan drama yang tak terlupakan.



