Dari Penjaga Warung Kecil ke Penguasa 23.000 Gerai: Kisah Djoko Susanto di Balik Alfamart
Baca dalam 60 detik
- Djoko Susanto memulai karier ritel dari warung kecil milik ibunya di Petojo, lalu sukses memasarkan rokok hingga menarik perhatian Putera Sampoerna.
- Berkat kemitraan dengan Sampoerna, ia mendirikan Toko Gudang Rabat yang bertransformasi menjadi Alfa Minimart dan akhirnya Alfamart, kini memiliki lebih dari 23.000 gerai.
- Kisahnya menjadi contoh nyata bagaimana kerja keras dan jejaring bisnis dapat mengubah nasib, sekaligus menggambarkan dinamika industri ritel Indonesia yang kompetitif.

Djoko Susanto, nama yang identik dengan jaringan minimarket Alfamart, memulai perjalanan bisnisnya dari sebuah warung kecil di Petojo, Jakarta. Pria kelahiran 1950 yang dulunya hanya seorang penjaga toko kelontong kini mengendalikan lebih dari 23.000 gerai ritel di seluruh Indonesia, termasuk Alfamidi dan Lawson. Namun, di balik kesuksesan itu, tersimpan kisah panjang penuh perjuangan dan keberanian mengambil risiko.
Lahir dengan nama Kwok Kwie Fo, Djoko tidak langsung terjun ke dunia ritel. Ia sempat bekerja sebagai pegawai di perusahaan perakitan radio sebelum memutuskan berhenti pada 1996 untuk membantu usaha keluarga. Keputusan itu menjadi titik balik. Ia kembali ke Toko Sumber Bahagia, warung milik ibunya yang menjual kebutuhan pokok seperti kacang tanah, minyak sayur, sabun, dan rokok. Dari sinilah ia belajar mengelola stok, melayani pelanggan, dan memahami dinamika pasar tradisional.
Perlahan, bisnis keluarga itu fokus pada penjualan rokok dalam skala besar dengan mitra utama Gudang Garam. Ketekunannya membuahkan hasil: pada 1987, Djoko sudah memiliki 15 jaringan toko grosir dan dinobatkan sebagai penjual rokok Gudang Garam terbesar. Prestasi ini menarik perhatian Putera Sampoerna, pemilik PT HM Sampoerna, yang kemudian mengangkatnya sebagai direktur penjualan pada akhir 1986. Di bawah kepemimpinannya, Sampoerna meroket ke peringkat kedua setelah Gudang Garam.
Kiprah Djoko semakin moncer ketika ia dipercaya menjadi direktur PT Panarmas, distributor rokok Sampoerna. Ia turut memasarkan Sampoerna A Mild pada 1989, yang kelak menjadi salah satu merek rokok paling populer di Indonesia. Pada tahun yang sama, ia mendirikan PT Alfa Retailindo dengan mengubah gudang Sampoerna di Jalan Lodan No. 80 menjadi Toko Gudang Rabat. Dengan modal Rp 2 miliar, 40% saham dimiliki Putera Sampoerna dan sisanya oleh Djoko. Toko ini awalnya berfungsi sebagai distributor rokok, namun perlahan bertransformasi menjadi toko kelontong yang menjual berbagai barang.
Memasuki era 1990-an, Gudang Rabat berkembang pesat dengan 32 gerai dan menjadi pesaing utama Indomaret milik Salim Group. Pada 18 Oktober 1999, namanya berubah menjadi Alfa Minimart di bawah PT Sumber Alfaria Triyaja, dengan gerai pertama di Jalan Beringin Raya, Tangerang. Konsep minimarket yang dekat dengan pemukiman penduduk mendapat sambutan hangat. Penjualan melonjak, dan pada 18 Januari 2000, Alfa resmi melantai di bursa saham dengan nilai kapitalisasi pasar mencapai US$ 108,29 juta.
Transformasi besar terjadi pada 1 Januari 2003, ketika Alfa Minimart berganti nama menjadi Alfamart. Putera Sampoerna kembali menyuntikkan modal, dan jaringan ini terus berekspansi. Kini, Grup Alfamart tidak hanya mengelola Alfamart, tetapi juga Alfamidi dan Lawson, dengan total gerai lebih dari 23.000 toko di seluruh Indonesia. Kisah Djoko Susanto menjadi inspirasi bagi banyak pengusaha ritel tanah air, menunjukkan bahwa dari warung kecil sekalipun, kerajaan bisnis bisa dibangun.
Namun, di balik gemerlap kesuksesan, industri ritel Indonesia menghadapi tantangan besar: persaingan ketat dengan pemain global, perubahan perilaku konsumen ke belanja online, dan tekanan margin. Mampukah Alfamart mempertahankan dominasinya di tengah gelombang digitalisasi? Atau justru akan bertransformasi menjadi platform omnichannel? Jawabannya akan menentukan masa depan ritel modern Indonesia.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7612616/original/026915700_1780398169-1000596458__1_.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3938374/original/017867600_1645165607-20220218-Waspada_Cuaca_Ekstrem_di_Jakarta-5.jpg)