Ramos-Horta di Shangri-La: Keamanan Abadi Tak Bisa Dicapai dengan Kekerasan
Baca dalam 60 detik
- Presiden Timor Leste Jose Ramos-Horta menekankan bahwa dialog berkelanjutan, bukan kekerasan, adalah kunci keamanan jangka panjang di kawasan.
- Dalam pidato di Shangri-La Dialogue, ia memuji ASEAN sebagai contoh nyata diplomasi yang mampu meredakan konflik meskipun prosesnya lambat.
- Pernyataan ini relevan bagi Indonesia yang aktif di ASEAN dan menghadapi tantangan keamanan di kawasan, termasuk konflik Myanmar.

Presiden Timor Leste, Jose Ramos-Horta, melontarkan kritik tajam terhadap pendekatan keamanan global yang mengandalkan kekuatan militer dalam pidatonya di forum Shangri-La Dialogue, Singapura. Menurut Ramos-Horta, stabilitas yang berkelanjutan tidak dapat dibangun dari ujung laras senjata, melainkan melalui komunikasi dan diplomasi yang konsisten.
Dalam forum yang dihadiri para menteri pertahanan dan pejabat tinggi keamanan Asia-Pasifik itu, Ramos-Horta menyoroti kegagalan kepemimpinan global yang menurutnya menjadi akar dari konflik berkepanjangan di Ukraina, Gaza, Lebanon, dan Iran. Ia menyebut situasi tersebut sebagai "pemikiran antara putus asa dan harapan" yang muncul saat menyaksikan dunia semakin terpecah.
Ramos-Horta justru memuji ASEAN sebagai model yang patut ditiru. Meski mengakui bahwa ASEAN "bukan surga di dunia" dan proses mencapai konsensus "sangat lambat dan membuat frustrasi", ia menilai organisasi itu berhasil menjaga perdamaian di kawasan. "Di dunia di mana jembatan dibakar lebih cepat daripada dibangun, ASEAN memberikan pelajaran tentang bagaimana dialog dan keterlibatan yang berkelanjutan dapat melindungi dari konflik dan memberikan manfaat bersama," ujarnya.
Ia juga menyinggung konflik internal di Myanmar sebagai salah satu tantangan keamanan yang masih dihadapi ASEAN. Namun, Ramos-Horta menekankan bahwa keberhasilan ASEAN bukan karena mampu menghilangkan perbedaan, melainkan karena berani menanam "pohon beringin"โtempat para pemimpin berkumpul dan merencanakan pengakhiran perang.
Pernyataan Ramos-Horta juga menjadi pengingat bagi negara-negara di kawasan, termasuk Indonesia, bahwa keamanan tidak bisa hanya diandalkan pada kekuatan militer. Dalam konteks Indonesia, pendekatan diplomasi ala ASEAN seringkali dianggap terlalu lambat, namun justru di situlah letak kekuatannya: mencegah eskalasi konflik melalui dialog.
Ramos-Horta, peraih Nobel Perdamaian 1996, memiliki kredibilitas kuat dalam isu perdamaian. Pengalaman Timor Leste yang merdeka melalui referendum dan rekonsiliasi pasca-konflik membuat pandangannya tentang keamanan non-militer semakin berbobot. Ia menutup pidatonya dengan ajakan agar para pemimpin dunia belajar dari filosofi pohon beringin ASEAN: menciptakan ruang bagi pertemuan dan negosiasi, bukan perang.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah negara-negara besar seperti AS dan China bersedia mengadopsi pendekatan serupa di kawasan Indo-Pasifik, atau justru semakin memperkuat aliansi militer yang justru memicu ketegangan?
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7513600/original/077726100_1780285828-Megawati_Gandeng_Prabowo.jpeg)
