Kisah Pasutri Mewah di Batavia: Pesta Porak-poranda Usai Perampokan Bank Rp202 M Terbongkar
Baca dalam 60 detik
- Pasangan Sonneveld, mantan perwira KNIL dan pejabat bank, menjalani hidup glamor di Batavia awal 1900-an yang ternyata dibiayai dari penggelapan dana nasabah.
- Aksi mereka terbongkar pada September 1913 setelah audit internal Bank Escompto mengungkap kerugian 122 ribu gulden, setara 73 kg emas atau Rp202,5 miliar saat ini.
- Keduanya kabur ke Hong Kong namun tertangkap berkat laporan teman, lalu diadili; suami dihukum 5 tahun penjara, istri 3 bulan.

Pada awal abad ke-20, Batavia digemparkan oleh kisah sepasang suami-istri warga Belanda yang hidup dalam limpahan kemewahan—pesta, jamuan mahal, dan hiburan di klub elit Societeit Harmoni—tanpa ada yang curiga bahwa semua itu dibiayai dari perampokan bank terbesar pada zamannya, dengan nilai setara Rp202,5 miliar jika dikonversi ke masa kini.
Pasangan itu adalah A.M. Sonneveld dan istrinya. Sonneveld bukanlah orang sembarangan: ia mantan perwira KNIL yang pernah mendapat penghargaan dari Ratu Belanda, lalu pensiun dini dan bekerja sebagai kepala bagian pengelola dana nasabah di Nederlandsch Indie Escompto Maatschappij—salah satu bank swasta terbesar di Hindia Belanda. Status sosial dan jabatannya membuat gaya hidup mewah mereka dianggap wajar. Namun, pada awal September 1913, tabir kemewahan itu mulai tersingkap.
Koran-koran Hindia Belanda, seperti Deli Courant (5 September 1913), memberitakan bahwa seorang pegawai bank di Batavia terbukti mencuri uang nasabah sebesar 122 ribu gulden. Setelah investigasi internal Bank Escompto, terungkap bahwa pelakunya adalah Sonneveld. Uang sebesar itu pada 1913 setara dengan 73 kilogram emas—karena harga emas saat itu 1,67 gulden per gram. Dengan harga emas kini sekitar Rp2,77 juta per gram, nilai curian itu mencapai Rp202,5 miliar.
Begitu mengetahui aksinya mulai terendus, Sonneveld dan istrinya melarikan diri. Polisi menetapkan mereka sebagai buronan dan menyebarkan deskripsi fisik: Sonneveld berkulit cokelat, berdarah Belanda, berusia 45 tahun, dengan bekas luka di pipi kanan dan lutut. Dari Meester Cornelis (kini Jatinegara), mereka naik kereta api ke Bandung, lalu melanjutkan ke Surabaya. Di perjalanan, Sonneveld bertemu seorang teman dan mengaku akan ke Hong Kong untuk studi banding ke cabang Bank Escompto—alasan yang langsung dianggap bohong oleh temannya.
Teman itu melapor ke polisi, yang kemudian berkoordinasi dengan kepolisian Hong Kong. Tak lama setelah menginjakkan kaki di Hong Kong, pasangan itu ditangkap dan diekstradisi ke Hindia Belanda. Barang bukti berupa tas berisi sisa uang hasil curian turut disita. Dalam persidangan, Sonneveld mengaku melakukan kejahatan demi memenuhi hasrat hidup mewah. Istrinya terbukti mengetahui dan ikut menutupi perbuatan tersebut. Sonneveld dijatuhi hukuman 5 tahun penjara, sementara istrinya menjalani hukuman 3 bulan penjara.
Kasus ini tercatat sebagai salah satu perampokan bank terbesar di era 1910-an dan menjadi pengingat bahwa kemewahan instan kerap menyembunyikan kejahatan. Di Indonesia modern, modus kejahatan perbankan semakin canggih, mulai dari pembobolan rekening online hingga penipuan digital. Meski teknologi telah berubah, esensi kejahatan tetap sama: memanfaatkan kepercayaan dan celah sistem untuk memperkaya diri.
Pelajaran dari kisah Sonneveld relevan bagi investor dan masyarakat Indonesia saat ini: pentingnya pengawasan internal yang ketat di lembaga keuangan, serta kewaspadaan nasabah terhadap transaksi mencurigakan. Pertanyaannya, apakah sistem perbankan Indonesia kini cukup kuat untuk mencegah terulangnya skandal serupa dengan nilai yang jauh lebih besar?


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7507672/original/005412200_1780279902-IMG-20260531-WA0002.jpg)
