Silvio Baldini: Tim Muda Italia Siap Bantai Yunani dan Luksemburg, Kritik Keras Klub Serie A
Baca dalam 60 detik
- Pelatih interim Italia, Silvio Baldini, memanggil 24 pemain dengan mayoritas debutan senior untuk laga uji coba Juni melawan Yunani dan Luksemburg.
- Baldini mengecam klub-klub Serie A yang enggan memberi menit bermain kepada pemain muda, menyebut hal itu sebagai akar masalah sepak bola Italia.
- Hanya Gianluigi Donnarumma yang secara sukarela menghubungi Baldini untuk bergabung, menandakan krisis kepercayaan di skuad senior Italia.

Silvio Baldini, pelatih interim Timnas Italia, dengan tegas menyatakan keyakinannya bahwa skuad muda yang ia panggil mampu meraih kemenangan atas Yunani dan Luksemburg dalam dua laga uji coba pada awal Juni mendatang. Dalam konferensi pers perdananya, Baldini tidak hanya membahas taktik, tetapi juga melontarkan kritik tajam terhadap klub-klub Serie A yang dinilainya menghambat regenerasi pemain.
Baldini ditunjuk sebagai pengganti sementara setelah Gennaro Gattuso mengundurkan diri menyusul kegagalan Italia lolos ke Piala Dunia, usai kalah dari Bosnia dan Herzegovina di babak play-off. Dari 24 pemain yang dipanggil, hanya empat yang pernah merasakan caps senior: Gianluigi Donnarumma, Marco Palestra, Niccolo Pisilli, dan Francesco Pio Esposito. Sisanya adalah pemain muda yang pernah ia latih di level U-21.
“Saya yakin anak-anak ini bisa memenangkan dua pertandingan ini,” ujar Baldini. “Mereka memiliki kualitas teknis yang hebat, dan saya memberi mereka kebebasan tanpa tekanan.” Namun, ia juga mengakui bahwa dirinya bukanlah kandidat ideal untuk posisi permanen. “Melatih timnas butuh CV tertentu, dan saya tidak memilikinya. Saya di sini karena Gattuso mundur,” tambahnya.
Yang menarik perhatian adalah pengakuan Baldini bahwa hanya Donnarumma yang secara sukarela menawarkan diri untuk bergabung. “Hanya Donnarumma yang menghubungi saya. Pesannya jelas: sepak bola Italia ingin perubahan,” katanya. Baldini menolak kecewa karena ia memahami luka kekalahan masih terlalu dalam. “Lebih baik mereka tidak ikut serta,” ujarnya.
Baldini juga melontarkan kritik pedas terhadap klub-klub Serie A. Menurutnya, sepak bola Italia dikuasai oleh direktur yang hanya memikirkan kepentingan sendiri, bukan perkembangan olahraga. “Tujuan mereka adalah sukses di bursa transfer dengan pemain tua, bukan pemain muda. Saya menyebut mereka ‘penipu’,” tegasnya. Ia mempertanyakan logika merekrut pemain berusia 39 tahun ketimbang memberikan kesempatan kepada pemain akademi. “Klub-klub Italia bermain lambat karena pemain tua cenderung mengatur tenaga. Pemain muda membawa antusiasme, ritme, dan kecepatan,” tambahnya.
Baldini juga menyinggung soal pemain-pemain Italia yang berkarier di luar negeri, seperti tiga pemain dari Borussia Dortmund. “Mereka melihat liga dan budaya berbeda, tapi yang menyatukan mereka adalah cinta pada sepak bola, bukan uang atau kesuksesan,” katanya. Ia menekankan pentingnya kebersamaan dalam tim. “Mereka sangat kompak, saling mendukung. Beberapa pemain bahkan bilang akan bertahan di klub seumur hidup jika bisa merasakan kebahagiaan seperti di U-21.”
Menanggapi protes Federasi Yunani yang kecewa karena Italia tidak menurunkan tim senior, Baldini menjawab dengan sinis. “Saya tidak akan menanggapi pelatih Yunani. Saya heran di negara tempat demokrasi lahir, orang lebih peduli pada apa yang dilakukan orang lain,” ujarnya. Ia juga tidak khawatir dengan risiko turunnya peringkat FIFA jika Italia kalah. “Saya tidak takut. Saya yakin anak-anak bisa menang. Jika saya mulai berpikir kalah, saya tidak akan percaya diri dan itu akan terasa oleh pemain,” tegasnya.
Bagi Indonesia, kritik Baldini terhadap klub yang enggan memainkan pemain muda relevan dengan kondisi sepak bola nasional. Banyak klub Liga 1 lebih memilih pemain asing atau senior ketimbang memberikan menit bermain kepada pemain muda lokal. Jika Indonesia ingin bersaing di level Asia, regenerasi pemain mutlak diperlukan. Pertanyaan besarnya: akankah klub-klub Indonesia belajar dari kritik Baldini?



