Sistem Imigrasi Malaysia Kembali Lumpuh: Puluhan Ribu Terjebak di Perbatasan
Baca dalam 60 detik
- Gangguan sistem MyIMMs yang berusia 30 tahun menyebabkan penumpukan hingga 5 jam di seluruh pos pemeriksaan Malaysia, mempengaruhi puluhan ribu pengguna.
- Insiden kedua dalam sebulan ini memicu kekhawatiran akan kesiapan infrastruktur digital imigrasi menjelang operasional RTS Link Johor-Singapura tahun depan.
- Pemerintah Malaysia mengakui sistem lama rentan gangguan dan menargetkan sistem baru NIISe beroperasi penuh pada 2028, namun risiko gangguan masih mengintai.

Puluhan ribu orang terjebak dalam antrean panjang di seluruh pos pemeriksaan Malaysia setelah sistem imigrasi nasional mengalami gangguan total selama lima jam pada Rabu (29/5) dini hari. Ini merupakan kegagalan kedua dalam waktu sebulan, memicu pertanyaan serius tentang keandalan infrastruktur digital perbatasan negara tersebut.
Gangguan yang berlangsung dari pukul 04.30 hingga 09.30 waktu setempat itu memaksa petugas imigrasi beralih ke proses manual untuk melayani warga lokal dan asing. Direktur Jenderal Imigrasi Malaysia, Datuk Zakaria Shaaban, mengonfirmasi bahwa sistem MyIMMs yang sudah berusia 30 tahun menjadi penyebab utama. "Sistem ini sudah tua, masalah pasti akan terjadi. Saya tidak bisa menjamin hal serupa tidak terulang," ujarnya dalam pernyataan resmi.
Kemacetan terparah terjadi di dua pos darat Johor yang menjadi jalur utama puluhan ribu pekerja Malaysia menuju Singapura. Seorang pejabat Kementerian Dalam Negeri yang enggan disebut namanya mengatakan, "Kami harus mengerahkan seluruh personel untuk mengoperasikan konter manual di lorong bus, sepeda motor, dan kendaraan. Bukan hanya autogate, sistem pengenalan wajah pun ikut mati." Personel keamanan tambahan dikerahkan untuk menjaga ketertiban.
Pemerintah Malaysia sebenarnya telah merencanakan penggantian MyIMMs dengan Sistem Imigrasi Nasional Terintegrasi (NIISe) yang ditargetkan beroperasi penuh pada 2028. Menteri Dalam Negeri Saifuddin Nasution Ismail, saat berkunjung ke Johor awal bulan ini, menekankan bahwa vendor NIISe telah diminta menyiapkan rencana mitigasi menjelang operasional Jalur Transit Cepat (RTS) Johor-Singapura tahun depan. Namun, Zakaria mengakui bahwa gangguan serupa masih mungkin terjadi selama masa transisi. "Kami akan menanggungnya sampai NIISe siap," katanya.
Bagi Indonesia, insiden ini menjadi pengingat akan pentingnya modernisasi sistem imigrasi, terutama di tengah meningkatnya mobilitas lintas batas di kawasan ASEAN. Malaysia dan Singapura adalah mitra dagang utama Indonesia, dan gangguan semacam ini berpotensi menghambat arus barang dan orang. Pemerintah Indonesia sendiri tengah mengembangkan sistem Automated Biometric Identification System (ABIS) untuk pelabuhan dan bandara, namun belum ada jadwal pasti implementasi penuh.
Ke depan, pertanyaan krusial adalah apakah Malaysia mampu mempercepat migrasi ke NIISe sebelum RTS Link beroperasi, atau apakah gangguan berulang akan menjadi "normal baru" yang menggerus kepercayaan publik dan investor terhadap kesiapan infrastruktur digital negeri jiran.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4960553/original/035815700_1728060133-WhatsApp_Image_2024-10-04_at_23.22.46_5ce6f6fe.jpg)

