Rantai Pasok Jepang Rawan: Separuh Perusahaan Tak Punya Rencana Mitigasi Bencana
Baca dalam 60 detik
- Hanya 25,9% dari 1.759 perusahaan Jepang yang disurvei telah menerapkan langkah penguatan rantai pasok, sementara sisanya belum memiliki rencana mitigasi.
- Perusahaan kecil dan menengah paling rentan: 56,3% usaha kecil mengaku belum mengambil langkah apa pun, jauh di atas perusahaan besar yang hanya 26,8%.
- Pemerintah Jepang mendorong diversifikasi pemasok dan penyebaran lokasi produksi, namun implementasi masih timpang antar skala usaha.

Sebuah survei terbaru dari Kantor Kabinet Jepang mengungkap fakta mengkhawatirkan: hampir setengah dari perusahaan di negara tersebut belum memiliki langkah konkret untuk melindungi rantai pasok mereka dari guncangan bencana alam maupun ketegangan geopolitik. Temuan ini membayangi risiko terhentinya produksi pabrik atau logistik yang dapat berdampak luas pada perekonomian nasional.
Survei yang melibatkan 1.759 perusahaan pada November-Desember lalu menunjukkan hanya 25,9% responden yang menyatakan telah menerapkan langkah-langkah penguatan rantai pasok. Angka ini menyisakan sekitar 74% perusahaan lainnya dalam posisi rentanโsebagian bahkan tidak memiliki rencana sama sekali. Kondisi ini kontras dengan intensitas guncangan yang belakangan melanda, seperti krisis pasokan nafta akibat memanasnya situasi Timur Tengah yang memaksa sejumlah perusahaan makanan mengubah kemasan produk mereka.
Jepang, yang terletak di Cincin Api Pasifik, memang akrab dengan bencana alam. Gempa besar masa lalu telah beberapa kali melumpuhkan jalur produksi. Namun, ancaman kini tidak hanya datang dari alam. Ketegangan global, seperti perang dagang dan konflik regional, ikut menguji ketahanan rantai pasok Negeri Sakura. Pemerintah pun berencana mendorong perusahaan untuk melakukan diversifikasi pemasok dan menyebar lokasi produksi. Seorang pejabat Kantor Kabinet menekankan perlunya upaya lebih untuk "menjaga agar aktivitas ekonomi tidak berhenti."
Kesenjangan antar skala usaha menjadi sorotan. Perusahaan besar cenderung lebih siap: 45,0% di antaranya telah menerapkan langkah penguatan, sementara hanya 23,2% perusahaan menengah dan 21,8% usaha kecil yang melakukan hal serupa. Ini menunjukkan bahwa sumber daya dan akses informasi menjadi faktor kunci dalam membangun ketahanan rantai pasok. Perusahaan kecil, yang kerap menjadi pemasok tier kedua atau ketiga, justru paling terpukul jika terjadi gangguan.
Bagi Indonesia, temuan ini relevan mengingat posisi Jepang sebagai salah satu mitra dagang utama dan investor besar. Banyak perusahaan Jepang yang memiliki pabrik atau rantai pasok di Indonesia. Jika induk perusahaan di Jepang belum memiliki rencana mitigasi yang matang, risiko gangguan bisa menjalar ke operasi di Tanah Air. Selain itu, Indonesia sendiri juga menghadapi tantangan serupa: kerentanan terhadap bencana alam dan ketergantungan pada impor bahan baku. Pelajaran dari Jepang bisa menjadi alarm bagi perusahaan lokal untuk mulai menyusun strategi diversifikasi pemasok dan penyebaran risiko.
Ke depan, efektivitas dorongan pemerintah Jepang akan sangat tergantung pada insentif dan pendampingan bagi usaha kecil-menengah. Tanpa itu, kesenjangan kesiapan antar skala usaha berpotensi melebar, dan rantai pasok nasional tetap rapuh. Pertanyaan yang mengemuka: apakah perusahaan-perusahaan di Indonesia sudah lebih siap menghadapi skenario serupa?