Antrean Paspor Membludak: Jepang Imbau Warga Ajukan Lebih Awal Sebelum Kenaikan Biaya
Baca dalam 60 detik
- Kementerian Luar Negeri Jepang memproyeksikan lonjakan permohonan paspor setelah tarif turun hingga 43% pada Juli 2026.
- Proses penerbitan diperkirakan memakan waktu hingga satu bulan meski percetakan negara beroperasi akhir pekan.
- Jepang berupaya mengejar ketertinggalan tingkat kepemilikan paspor yang rendah dibanding negara maju lain.

Kementerian Luar Negeri Jepang mengimbau warganya untuk mengajukan permohonan paspor jauh-jauh hari sebelum musim liburan musim panas, menyusul prediksi lonjakan pemohon yang menunggu penurunan biaya resmi pada Juli mendatang. Imbauan ini muncul sebagai antisipasi terhadap kemungkinan keterlambatan penerbitan yang bisa mencapai satu bulan, meskipun Biro Percetakan Nasional telah menambah kapasitas dengan beroperasi pada akhir pekan.
Mulai 1 Juli, biaya pembuatan paspor 10 tahun di loket pelayanan akan turun drastis dari 16.300 yen (sekitar Rp1,8 juta) menjadi hanya 9.300 yen (Rp1,03 juta). Sementara itu, paspor 5 tahun untuk pemohon di bawah 18 tahun yang sebelumnya bervariasi berdasarkan usia, akan diseragamkan menjadi 4.800 yen (Rp530 ribu). Kebijakan ini merupakan bagian dari upaya pemerintah Jepang untuk meningkatkan angka kepemilikan paspor yang masih rendah dibandingkan negara-negara besar lainnya.
Fenomena penundaan permohonan sudah terlihat sejak Desember tahun lalu, ketika Menteri Luar Negeri Toshimitsu Motegi mengumumkan rencana penurunan tarif. Data kementerian menunjukkan jumlah pemohon pada periode Januari hingga April tahun ini turun 10% dibandingkan tahun normal, mengindikasikan banyak warga sengaja menahan diri untuk mengajukan setelah tarif baru berlaku. Lonjakan permohonan diperkirakan terjadi pada Juli dan Agustus, bertepatan dengan liburan musim panas.
Untuk mengantisipasi kebingungan publik, Kementerian Luar Negeri Jepang telah menyiapkan hotline konsultasi paspor yang akan beroperasi selama dua bulan ke depan. Hotline ini akan menjawab pertanyaan seputar perubahan biaya dan proses penerbitan. Juru Bicara Kementerian, Toshihiro Kitamura, dalam konferensi pers bulan lalu berharap masyarakat mengajukan permohonan “dengan waktu yang cukup” agar tidak tergesa-gesa.
Bagi Indonesia, kebijakan ini menarik untuk dicermati. Jepang merupakan salah satu negara tujuan utama wisatawan Indonesia, dan kemudahan akses paspor bagi warga Jepang berpotensi meningkatkan jumlah pelancong ke Indonesia. Sebaliknya, bagi warga Indonesia yang berencana ke Jepang, lonjakan pemohon paspor di Jepang tidak berdampak langsung, namun bisa menjadi pengingat pentingnya merencanakan perjalanan jauh-jauh hari, terutama saat musim liburan. Pemerintah Indonesia sendiri terus berupaya mempercepat proses penerbitan paspor melalui digitalisasi dan layanan online.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah penurunan biaya ini benar-benar akan mendongkrak angka kepemilikan paspor Jepang secara signifikan, atau justru hanya menimbulkan kemacetan administrasi sementara. Dengan target pemerintah untuk mengejar ketertinggalan dari negara-negara seperti Korea Selatan dan Singapura yang memiliki tingkat kepemilikan paspor di atas 50%, keberhasilan kebijakan ini akan menjadi indikator penting bagi mobilitas global warga Jepang.


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5508083/original/075320600_1771564548-Ahok_-_klaim_bantuan_facebook.jpg)
