Dari Liga Non-Liga ke Final Liga Champions: Kisah David Raya yang Tak Terduga
Baca dalam 60 detik
- Kiper Arsenal David Raya akan menjadi pemain ketiga yang berlaga di final Liga Champions setelah memulai karier di non-liga Inggris.
- Perjalanan Raya dari lapangan berlumpur National League hingga panggung Eropa menunjukkan ketangguhan mental dan kemampuan adaptasi yang langka.
- Kisahnya menjadi inspirasi bagi pesepakbola muda di Indonesia yang kerap menghadapi keterbatasan fasilitas dan eksposur.

David Raya bersiap mengukir sejarah sebagai kiper ketiga yang mentas dari sepak bola non-liga Inggris ke final Liga Champions, saat Arsenal menghadapi Paris Saint-Germain di Budapest, Sabtu (31/5). Perjalanan pemain berusia 30 tahun ini dimulai dari Moss Rose, markas Macclesfield Town di National League, tempat ia menjalani debut senior bersama Southport pada September 2014 di hadapan kurang dari 1.500 penonton.
Raya bergabung dengan Steve Finnan dan Chris Smalling dalam daftar eksklusif pemain yang menapaki jalur serupa. Finnan, bek kanan yang mengangkat trofi Liga Champions 2005 bersama Liverpool, sebelumnya bermain untuk Welling United, sementara Smalling memperkuat Maidstone United sebelum menjadi pemain cadangan Manchester United di final 2011. Namun, kisah Raya memiliki keunikan tersendiri: ia meninggalkan akademi klub Divisi Ketiga Spanyol, Cornella, pada usia 16 tahun untuk bergabung dengan Blackburn Rovers melalui program kemitraan.
Keputusan berani itu tidak serta-merta membawa kesuksesan. Di Blackburn, Raya harus bersaing dengan Paul Robinson, Jake Kean, dan Simon Eastwood. Dua tahun kemudian, ia memilih turun tiga divisi untuk bergabung dengan Southport yang terpuruk di kasta kelima. "Saya tidak menyangka ada yang bisa memprediksi atau menulis skenario seperti ini. Anda tidak akan 100 persen terkejut, tapi Anda juga tidak akan bertaruh padanya," ujar Paul Carden, mantan asisten manajer Southport, kepada BBC Sport.
Selama masa pinjaman empat bulan di Southport, Raya berlatih tiga kali seminggu dan menambah porsi latihan di Blackburn saat klub pinjamannya libur. Kemampuan memainkan bola dengan kaki, yang langka di kalangan kiper Inggris saat itu, menjadi senjatanya. Dalam laga melawan Kidderminster, ia dengan tenang menggiring bola melewati penekanan lawan dan memberikan umpan pendek ke bek sayap—aksi yang membuat jantung para staf pelatih di bangku cadangan hampir berhenti. "Itu bukan arogansi, melainkan kepercayaan diri yang besar. Ia selalu rendah hati dan bertekad," kenang Carden.
Ujian terberat Raya datang di babak ketiga Piala FA 2015 saat Southport menghadapi Derby County dari Championship. Ia melakukan beberapa penyelamatan gemilang dan hanya kebobolan melalui penalti di masa injury time. Usai pertandingan, Raya menangis di lapangan—sebuah momen yang menunjukkan kedekatannya dengan tim. "Ia membuat penyelamatan yang membuat kami berpikir ia pasti berada di level yang lebih tinggi. Anda bisa menempatkannya di gawang Derby dan ia tidak akan terlihat asing," tambah Carden.
Kembali ke Blackburn, Raya harus menunggu hingga klub terdegradasi ke League One pada 2017 untuk menjadi kiper utama. Ia langsung membawa Rovers promosi kembali ke Championship. Jayson Leutwiler, mantan rekan setim di Blackburn, mengingat penyelamatan-penyelamatan luar biasa yang kini menjadi ciri khas Raya di Arsenal. "Ia bisa melakukan penyelamatan yang hanya satu dari sepuluh kali bisa dilakukan kiper lain. Tapi ketika itu terjadi empat, lima, atau enam kali dalam semusim, itu bukan kebetulan," ujar mantan kiper timnas Kanada itu.
Bagi pesepakbola Indonesia, kisah Raya menawarkan pelajaran berharga tentang pentingnya ketangguhan mental dan keberanian mengambil jalan tidak populer. Di tengah keterbatasan fasilitas dan kompetisi yang timpang, banyak pemain muda Indonesia yang harus memilih antara bertahan di zona nyaman atau merantau ke klub-klub kecil demi menit bermain. Leutwiler menekankan bahwa bermain di liga bawah membentuk resiliensi: "Anda terpapar pada tekanan yang berbeda, lapangan yang kurang ideal, dan penonton yang sedikit. Itu membuat Anda lebih siap menghadapi pertandingan besar."
Raya kini berada di ambang puncak karier. Jika Arsenal mampu mengalahkan PSG, ia akan menggenapi dwimusim impian setelah memenangi Premier League dan Euro 2024. Namun, apa pun hasilnya, perjalanannya dari lapangan berlumpur Macclesfield ke panggung Liga Champions telah menjadi legenda. "Saya rasa tidak ada yang bisa menulis dongeng seperti ini, dan itulah mengapa ini sangat istimewa," tutup Carden. Pertanyaannya, mampukah Raya menulis babak akhir yang sempurna di Budapest?



